Sebenarnya malam itu aku sudah sangat lelah sekali, apalagi diluar sepanjang hari ini hujan hingga mendengar berita dimana-mana banjir, sampai-sampai pesawat ajah delay dan memang sungguh memalukan jika difikir-fikir hujan sebentar saja dimana-mana sudah banjir.
Namun bukan masalah banjir yang aku mau share kan tetapi dimana hamper setiap malam temanku seorang wanita yang masih sangat cantik telepon padaku dengan nada tersendat dan kata-kata yang terbata-bata karena dia berbicara kepadaku sambil menangis.
“ kenapa?” tanyaku sambil langsung dia bercerita katakanlah temanku ini bernama Rini. Rini menceritakan bagaimana suaminya yang selama ini sangat terkenal alim, baik dan sangat bertanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarganya mengakui dihadapan Rini seorang istri yang sangat menghormati suaminya bahwa sudah 2 tahun ini suaminya mejalin hubungan dengan wanita lain dan sekarang memohon kepada Rini agar diperbolehkan menikahi wanita tersebut dikarenakan sudah hamil.
Menurut Rini bagaikan petir disiang hari bukan hanya terkaget-kaget lagi hampir saja Rini pingsan mendengarkan pengakuan seorang suami yang tidak disangka-sangka dan diluar prediksinya Rini selama ini tidak ada tanda-tanda perselingkuhan. Dan rumah tangganyapun selama ini baik-baik saja dan tidak ada masalah, setau ku justru harmonis sekali dan aku pun kaget mendengarkannya karena memang aku sangat mengenal baik suaminya, yang menurutku sangat alim, pendiam dan tidak neko-neko, ehhh ini sekalinya berbuat salah kok yach fatal akibatnya, ngeri benerrrrrrrr menurutku, “kasihan Rini”.
Itu dikarenakan apakah memang Rini yang seorang 100% ibu rumah tangga sehingga memang terbatas untuk pergi kemana-manapun karena waktunya dihabiskan untuk mengurus pekerjaan rumah tangga dan (anak-anak mereka sudah dikaruniai 2 orang anak laki-laki yang sudah beranjak dewasa). sehingga yang selalu Rini tau jika suaminya pulang larut malam ataupun tidak pulang beberapa hari dikarenakan tugas “keluar kota” yang (kata suaminya), selama ini Rini sich percaya saja apalagi pekerjaan suaminya memang seorang pengusaha yang sangat sukses.
“Emmmm wanita yang sangat polos demi kejujuran dan kesetiaannya” (menurutku).
Kata Rini lagi “Suaminya berjanji akan berlaku sangat adil toh selama ini semua kebutuhan baik sandang, pangan, dan papan sudah tercukupi dan lebih dari cukup, suaminya hanya memohon dalam satu minggu 2 hari saja berada diistri mudanya , selebihnya bersama Rini dan anak-anak,.
Yach menurutku lagi “ awal-awalnya memang begitu 2 hari saja jatah istri mudanya, tapi lama kelamaan siapa tau? ” sudah banyak tuch laki-laki yang akhirnya tidak pulang-pulang malahan betah diistri mudanya,.
Aku langsung gemes mendengarkan curhatan Rini ini, semudah itukah dia menyerahkan suaminya untuk menikah lagi hanya karena merasa takut semua fasilitas yang selama ini didapat dan sudah dipenuhi akan tidak lagi disupsidi oleh suaminya.
Ada berapa banyak wanita-wanita seperti ini yang sudah jelas-jelas suami-suaminya menyakiti hati mereka namun mereka selalu merasa tidak berdaya, selalu merasa tidak mampu berbuat apapun itu dikarenakan yach itu tadi semua kebutuhan sudah tercukupi dan takut kehilangan itu semua.
Kataku “ Mana bisa berlaku adil tetap lah wanita yang paling tertindas, secara materi mungkin tercukupkan terpenuhi sudah, tetapi apakah secara bathin benar-benar dapat terpenuhi “ mana kala setiap suami menikah selalu istri ke 2 atau ke 3 atau seterusnya justru lebih muda umurnya dan lebih cantik paras wajahnya dan mungkin lebih ok body nya dibandingkan istri pertama. Dan dimana kah keadilan itu?.
Ini memang kisah klasik dimana poligami mejadi dilegalkan terutama oleh salah satu agama besar yang ada dibangsa kita ini,
Namun tetap saja apapun itu bentuk alasannya poligami tetaplah merugikan wanita.
Meskipun kaum laki-laki mengibaratkan dirinya seperti mataharri yang menyinari bumi dan ibaratnya matahari juga banyak wanita-wanita dibumi ini yang membutuhkan sinarnya dalam hal ini bantuan laki-laki, kalau laki-laki dapat berkaca janganlah mengibaratkan diri sebagai matahari bagaimana jika menjadi sebuah lilin lihatlah dan bercerminlah, jikakalau laki-laki hanya sebatang lilin tidaklah cukup terang untuk menyinari seisi rumahnya sendiri, tetapi sudah ingin menyinari rumah lainnya lagi atau rumah satunya lagi.
Bukankah jika tujuannya memang hanya ingin membantu tidak harus dengan menikahi (berpoligami) tetap saja dapat membantu namun ini semua pastilah didasarkan hanya kepada sex semata.
Aku sendiri beranggapan sebegitu mudahnya laki-laki mengumbar hawa nafsunya dalam hal ini sex semata.
(maaf yach jika ada laki-laki yang tersinggung).
Akhirnya aku hanya bisa memberikan kekuatan dan membantu Rini dengan mensupport agar tetap bersemangat menjalani hari-hari selanjutnya, dan jangan sampai putus pengharapan serta tetap berdoa agar suaminya disadarkan, serta seutuhnya kembali kepadanya dan anak-anaknya.
Bagaimana dengan nasib Rini-Rini selanjutnya?
Karena pasti sangat banyak kisah Rini yang seperti ini!
Adakah solusi bagi wanita-wanita yang dipoligami oleh suaminya?
Ditunggu komentar dan sarannya…!!!
Karena, hampir setiap malam sudah beberapa minggu ini Rini selalu menangis diujung telepon curhat kepadaku.
Dan tidurkupun, jadinya sedikit terganggu!.
Uuhhh… lagi-lagi Laki-Laki…!,
lagi-lagi Poligami…!,.
Emmmmmmmmm,.
“ HANYA BISA MENGGELENGKAN KEPALA DAN MENGELUS DADA “
February 3rd, 2008 at 4:45 am
rini, rini, cari aja lagi. kenapa harus repot.
” Bagus juga ide nya, tumben top cerr bro’ sarannya,.”
March 15th, 2008 at 3:47 pm
kalo aq jd rini,pst sudah poliandri so what gitu loh….