Surat dari Sahabat,
By : Arie
Anak-anakKU yang Terkasih,
Seperti yang kamu tahu, peringatan ulang tahunku semakin dekat. Setiap
tahun diadakan perayaan untuk menghormatiku dan aku kira tahun ini juga.
Menjelang perayaan, banyak orang berbelanja hadiah, pengumuman di radio
dan iklan TV. Dunia berkata bahwa perayaan semakin dekat dan semakin
dekat lagi.
Yang sangat membahagiakan adalah, paling tidak setahun sekali, beberapa
orang mengingat aku. Dan kita semua tahu bahwa perayaan itu sudah
dimulai bertahun-tahun lalu.
Awalnya orang-orang tampaknya mengerti dan bersyukur atas apa yang sudah
aku lakukan bagi mereka. Tetapi kemudian tak seorangpun mengerti dasar
diadakannya perayaan ini.
Sanak saudara dan handai taulan berkumpul. Pakaian, perhiasannya
alangkah elok. Mereka bergembira tanpa memahami arti perayaan itu
sendiri. Aku ingat tahun lalu, ada pesta besar demi menghormatiku. Meja
sarat aneka rupa makanan lezat – dari kue, coklat sampai buah-buahan.
Hiasan, pajangan semua mengagumkan. Bingkisan-bingkisan bertumpuk,
dibungkus kertas warna warni. Sangat indah.
Namun, ingin tahukah Saudara? Aku tidak diundang.
Aku seharusnya menjadi tamu kehormatan tetapi mereka lupa mengirimiku
undangan.
Pesta itu untuk aku tapi ketika saat bahagia itu tiba, mereka
meninggalkanku diluar, pintu ditutup didepan mataku…….. Aku ingin
bersama mereka, duduk bersama dimeja yang sama.
Sebenarnya ini tidaklah terlalu mengherankanku karena beberapa tahun
belakangan orang-orang mulai menutup pintu bagiku. Karena aku tidak
diundang maka aku memutuskan untuk diam-diam masuk dan duduk di pojok.
Mereka minum-minum, ada yang mabuk, ngobrol sana sini sambil tertawa
riang. Bahagianya mereka.
Untuk melengkapi kesukaan itu, datanglah seseorang besar gemuk
berpakaian merah dan berjenggot putih panjang. Ho..Ho..Ho!, serunya.
Sepertinya ia mabuk. Ia duduk di sofa lalu semua anak menyerbunya sambil
berteriak – Sinterklas…Sinterklas… seakan-akan perayaan itu untuk
menyambut dan menghormatinya!
Tengah malam semua orang mulai saling berpelukan. Aku membentangkan
tangan, menunggu ada yang memelukku. tahukan Saudara, tak seorangpun
menghampiri dan memelukku.
Lalu mereka bertukar hadiah. Mereka membukanya dengan suka cita, penuh
harapan. Ketika semua sudah terbuka, aku mulai mencari-cari kalau-kalau
ada satu untuk aku. Ternyata tak ada satupun.. Apakah yang kamu rasakan
ketika semua orang bertukar hadiah lalu kamu sendiri tidak mendapatkan?
Lalu aku sadar bahwa aku tidak dibutuhkan dalam pesta itu oleh karenanya
aku disisihkan.
Tahun demi tahun terjadi dan semakin menyedihkan. Orang-orang hanya
ingat hadiah, baju baru, pesta, makan dan minum. Dan tak seorangpun
ingat aku.
Aku demikian ingin dihari Natal ini anak-anakKU memperbolehkan aku masuk
dalam hidup mereka.
Aku ingin anak anakKU mengingat bahwa hampir 2000 tahun yang lalu aku
datang di dunia untuk memberikan hidupku bagi mereka, diatas kayu salib,
untuk menyelamatkan mereka.
Hari ini, aku semata-mata ingin anak-anakKU percaya sepenuh hati.
Yang ingin aku sampaikan adalah: karena begitu banyak yang tidak
mengundangku ke pesta maka aku akan membuat perayaan sendiri. Sebuah
pesta bertabur kemegahan yang belum pernah terbayangkan oleh siapapun -
perjamuan agung.
Saat ini aku sedang menyiapkan segalanya.
Hari ini aku menyebar undangan dan ada satu undangan untuk kamu. Betapa
aku ingin tahu minat kamu untuk datang.
Bila “ya” maka aku akan menyiapkan tempat serta menuliskan nama mu
dengan tinta emas di buku tamuku.
Hanya mereka yang namanya tercatat akan memperoleh tempat duduk layak.
Mereka yang tidak membalas undangan akan ditinggalkan diluar.
Bersiaplah sebab bila semua persiapanku telah selesai, kamu akan duduk
dalam perjamuan agungku.
*Bagikan kepada orang lain yang kamu cintai sebelum Natal tiba.
Sampai jumpa.
Aku mengasihimu.
Yesus

