
berilah dengan tulus
Arti sesungguhnya hidup berkecukupan adalah suatu kehidupan yg senantiasa memberi dan membagikan diri, bukan mengumpulkan dan memiliki bagi diri sendiri.
Makna yg terkandung sesungguhnya begitu dalam ketika malam ini saya mencoba untuk merenungkan arti diatas ini dikarenakan saya sepanjang hari ini merasakan kebosanan yg sangat mendalam, mengeluh kesana kemari memberi taukan kesemua teman bahwa saya be-te habisssss, sudah beberapa teman yg saya curhatin ehhhh…ikutan be-te juga kaliee yach itu teman aku curhatin habis-habisan
Dikarenakan bukan hanya satu orang teman saja yg selalu membuat aku susah dan aku merasa direpotkan salah satunya karena uang di pinjam teman terus teman tersebut pura-pura lupa bahkan sekarang teman tersebut menghilang pindah kontrakan ga tau kemana? bukan hanya itu saja nich Gestanto juga begitu pinjam dvd external notebook ku udah beberapa tahun sampai sekarang juga tidak kembali tadinya hanya untuk menyelesaikan tugas tugasnya uhhhhhhhhhh sebel sampai hari ini nich notebook ga bisa putar cd or dvd kerjaku harus pakai flashdisk, belum lagi teman kantorku Lina yg selalu nebeng mobil aku jika berangkat kerja tapi sama sekali ga pernah share bensin ataupun uang tol dan sebagainya duchh pelit dan kikir banget dech uhhh
namun begitu pernah aku sekali kerja nebeng mobil dia aku harus belikan dia bensin, bayar tol dan bayar parkir emmmmmmmmm semakin kesal rasanya.
Namun begitu saya membaca kisah Abraham berlutut diatas bukit moria, seraya memeluk putra tercintanya yg bernama Ishak. saat itu, Allah sedang menguji kesetiaan Abraham yg akan dijadikanNya bapak bangsa. Allah memerintahkan Abraham untuk menyembelih dan mengorbankan Ishak, putra kesayangannya.
Meskipun hatinya sangat sedih namun dengan kepatuhannya, Abraham bersimpuh dan akan segera melaksanakan perintah Allah. Ketika Ia akan menyembelih Ishak, malaikat Tuhan mencegah niat umatNya yg setia itu dan mengganti persembahan Abraham dengan domba jantan.
Ketika Abraham merelakan miliknya yg paling berharga, Ia sadar bahwa yg di milikinya itu adalah titipan Tuhan, dan milik titipan itu sekaligus menjadi ujian apakah kita setia dalam pengelolaannya semua yg kita miliki didunia ini bukanlah milik kita untuk menjadi berkat bagi orang lain dan bukan hanya bagi keuntungan diri kita sendiri saja.
“sesungguhnya adalah suatu kebahagiaan yg sangat berharga ketika memberi dari pada menerima”
Betapa kekesalan dan sakit hati serta rasa kecewa dan tidak rela, telah menyempitkan dan memiskinkan kehidupan rohaniku. bukankah jika aku relakan apa yg sudah aku berikan ini menyatakan bahwa aku berkecukupan? karena jika tidak demikan bagaimana aku bisa membantu mereka dan bukankah sudah selayaknya aku mengucap syukur karena sudah berkecukupan.
Akan hal semua ini aku renungkan dan aku ingat kembali bahwa sudah cukup setiap hari aku bisa makan sedangkan basih banyak orang yg tidak bisa makan, sudah cukup aku tinggal dirumah yg tidak kepanasan dan serta tidak kehujanan dikala turun hujan rumah yg nyaman meskipun tidak terlalu besar, bukankah sudah cukup dapat pergi bekerja tanpa kepanasan, tanpa basah jika hujan turun bahkan tanpa debu dijalannya atau tanpa berdesak-desakan bis kota meskipun mobilku tidak bagus-bagus amat namun aku masih bisa bekerja.
Serta betapa bodohnya aku selama ini, padahal Abraham dan Sang Nabi telah memberikan segala yg ada, hingga tak tersisa apa pun bagi mereka.
Seharusnya aku yg bodoh dan picik ini mengucap syukur. selama ini Tuhan sudah memberkati aku dengan limpahan rezeki, seharusnya aku tidak gelisah, marah-marah, mengeluh karena pinjaman dan pemberian yg tidak seberapa, namun telah turut membuat hati mereka lebih berbunga dan hari mereka lebih berguna.
Seharusnya aku bisa berfikir lebih bijaksana