Dec 7

Tidak ada yg kebetulan jika Allah sangat perduli dan menyembuhkan Hati yg hancur Jiwa yg remuk

Begitu Ibadah Minggu 6 desember 2009 dan Pastor Kong Hee dari  City Harvest Church in Singapore yg membawakan Firmannya di Ibadah Senayan City kemarin malam begitu banyak berkat yg aku dapatkan semakin memperkuat iman ini.

Firmannya :

Apakah yg harus kita lakukan pada waktu kita tidak tau apa lagi yg harus kita lakukan ?

nach, ini sama dengan kondisi dan keadaan ku yg sangat putus asa dan kata pastor Kong Hee ada 5 hal yg bisa kita lakukan seperti Raja Yosafat didalam 2 tawarikh 20 ayat 1-26

1. ayat 3 : Tetapkan hatimu untuk mencari Tuhan seperti didalam matius 6 : 33 karena Tuhan tidak akan mengecewakan kita

2. ayat 12 : Berfokus kepada Janji Tuhan di Alkitab bukan masalah yg kita hadapi, karena dialkitab banyak sekali janji2 Tuhan

3. ayat 13 : Berdiri dihadapan Tuhan percaya kepada Tuhan sepenuhnya, jangan panik, jangan khawatir, Efesus 6 pahlawan doa

4. ayat 14 : Nantikan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah Roh penolong, Roh penghibur, yg akan memberikan kekuatan

5. ayat 22 : Memuji Tuhan, Pujian dan Penyembahan kepada Tuhan setiap saat sekalipun kita didalam api

karena sangat mudah kita menyembah dan memuji Tuhan pada waktu diberkati dan senang, tetapi justru didalam kesesakan, didalam masalah, didalam kekelaman terus pujilah Tuhan sekalipun kita ditengah api.

Pujian adalah bahasa iman dan iman itu tidak pernah diam seperti kata Haleluyah yg artinya berteriak sekuat-kuatnya, berputar, menari, penuh sukacita. Sekalipun kita didalam kesusahan karena pujian tidak pernah diam pujian selalu keras dan yg paling berharga dimata Tuhan ketika kita sakit hati, dan ketika hati kita hancur, kita tetap memuji Tuhan setiap saat.

dan dari semuanya itu Pemulihan pasti terjadi. Haleluyah, AMIEN.

Who am I that you are mindful of me
That you hear me, when I call
Is it true that you are thinking of me
That you love me
Its amazing
I am a friend of God, I am a friend of God
I am a friend of God He calls me friend
God almighty, Lord of glory
You have called me friend

————————–
I love U full JESUS’ :) :) :)

Nov 18

Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu – 2

Charles G Finney

(Disambung dari Pertobatan yang sejati dan yang palsu – 1)

Beberapa pertanyaan tentang perbedaan di antara orang Kristen yang sejati dan palsu

1. “Jika kedua kelompok itu sangat mirip dalam banyak hal, lalu bagaimana cara agar kita bisa mengenali karakter kita sendiri, atau mengetahui di dalam kelompok mana kita berada?

Kita sama-sama tahu bahwa hati ini sangat penuh dengan tipu daya, dan memang sangat licik (Yer. 17:9), jadi bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memang mengasihi Allah dan juga kekudusan, atau kita ini sekadar mencari imbalan dari Allah, mengejar tempat di surga demi kepentingan pribadi?

Jika kita benar-benar memiliki kebajikan, hal itu akan tampak dari tindakan kita sehari-hari.

Jika di dalam cara kita berurusan dengan orang lain itu kita dilandasi oleh watak yang egois, maka keegoisan itu juga akan melandasi cara kita berurusan dengan Allah. “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).

Menjadi seorang Kristen bukan sekadar urusan mengasihi Allah, melainkan juga hal mengasihi sesama manusia. Dan jika tindakan sehari-hari kita dilandasi oleh keegoisan, maka kita ini bukan orang yang sudah bertobat – sebab, jika kita tetap tergolong sebagai orang Kristen, maka itu berarti kita bisa menjadi seorang Kristen tanpa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Jika Anda tidak egois, maka tanggungjawab spiritual Anda tidak akan menjadi suatu beban bagi Anda. Sebagian orang mengerjakan perintah Allah dengan sikap hati yang sama seperti seorang pasien yang meminum obat dari dokter – yakni karena dia berharap untuk bisa mendapatkan hasil yang baik buat dirinya pribadi, dan dia tahu bahwa dia harus meminumnya atau menghadapi kematian. Pelaksanaan itu selalu dia jalankan atas rasa terpaksa.

Jika Anda egois, maka sukacita Anda akan sangat dipengaruhi oleh seberapa tinggi harapan Anda untuk bisa masuk ke surga.

Saat Anda merasa sangat yakin bahwa Anda akan masuk surga, maka Anda akan sangat menikmati kehidupan Kristen Anda. Sukacita Anda bergantung pada harapan Anda, bukan karena kasih Anda pada hal-hal yang sedang Anda harapkan itu. Saya tidak menyatakan bahwa orang-orang kudus itu tidak bersukacita akan pengharapan mereka, akan tetapi harapan itu sendiri bukan hal yang terpenting bagi mereka. Mereka tidak banyak memikirkan tentang harapan pribadi mereka karena pikiran mereka tersita akan hal-hal yang jauh lebih bernilai.

Jika Anda egois, maka sukacita Anda lebih banyak dipengaruhi oleh penantian akan harapan pribadi Anda. Orang-orang kudus yang sejati bersukacita di dalam damai sejahtera yang datang dari Allah dan surga sudah terbentuk di dalam jiwa mereka. Ia tidak menunggu sampai mati nanti baru akan menikmati sukacita hidup kekal. Sukacitanya begerak sejajar dengan kekudusannya, bukan dengan harapan pribadinya.

Orang yang terperdaya atau tersesat hanya mengejar hasil dari ketaatan, sedangkan orang kudus memiliki jiwa yang taat.

Ini adalah perbedaan yang penting, dan saya kuatir hanya sedikit orang yang bisa memiliki jiwa yang taat itu. Orang kudus yang sejati memang benar-benar memiliki kecenderungan untuk taat, dan ketaatannya itu bersumber dari dalam hatinya – oleh karenanya, ketaatan itu menjadi hal yang mudah baginya. Petobat palsu bertekad untuk menjadi kudus karena tahu bahwa hanya itu jalan untuk mengejar kebahagiaan. Orang kudus yang sejati memilih kekudusan karena kasihnya pada kekudusan, dan dia memang kudus.

Petobat yang sejati dan yang palsu juga memiliki perbedaan dalam iman mereka.

Orang kudus sejati memiliki keyakinan akan kepribadian dan karakter Allah, dan keyakinan ini membawa mereka pada ketaatan yang sepenuh hati kepada Allah. Keyakinan yang sejati kepada janji-janji khusus Tuhan bergantung pada keyakinan akan kepribadian Allah. Hanya ada dua dasar bagi segala jenis pemerintahan, baik yang ilahi maupun yang manusiawi, yang ditaati karena ditakuti atau karena dipercaya. Segala jenis ketaatan bersumber dari salah satu dari kedua prinsip itu.

Di satu sisi, orang menjadi taat karena berharap mendapat imbalan atau takut akan hukuman. Sedangkan di sisi lain, ketaatan itu datang dari keyakinan akan karakter dari pemerintahan, yang dijalankan dengan kasih. Seorang anak mentaati orang tuanya karena dia mengasihi dan mempercayai mereka. Yang lain mungkin menunjukkan ketaatan di permukaan saja karena dilandasi oleh rasa takut dan harapan akan imbalan. Petobat yang sejati memiliki iman, atau keyakinan kepada Allah, yang mendorong dia untuk taat kepada Allah atas dasar kasih. Inilah yang disebut ketaatan iman.

Orang yang tersesat hanya memiliki iman yang separuh-separuh, begitu pula dengan ketaatannya. Iblis juga memiliki iman yang separuh-separuh. Dia percaya dan gemetar ketakutan. Seseorang mungkin meyakini bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, dan berdasarkan pengetahuan itu maka dia mentaati Kristus untuk diselamatkan. Akan tetapi dia tidak sepenuhnya tunduk pada kedaulatan Kristus, atau memberi Kristus kendali atas kehidupannya.

Ketaatannya dilandasi oleh syarat bahwa dia akan diselamatkan. Dia tidak pernah dengan sepenuh hati – tanpa menyimpan sesuatu hal lain di hatinya – meyakini segenap kepribadian Allah sehingga membuat dia bisa berkata, “Kehendak-Mu jadilah.” Keyakinan agamanya berbentuk keyakinan akan seperangkat aturan atau hukum. Jenis yang lainnya lagi, memiliki Injil iman; kepercayaannya berlandasakan iman. Yang satu egois, yang satunya lagi dilandasi kebajikan. Di sinilah letak perbedaan sejati dari kedua kelompok tersebut. Kehidupan keagamaan yang satu hanya tampak di permukaan dan bersifat munafik. Yang satunya lagi bersumber dari dalam hati – kudus dan berkenan kepada Allah.

Jika Anda egois, maka Anda hanya bersukacita atas pertobatan seseorang di mana Anda memiliki peranan di dalamnya.

Anda hanya sedikit merasa puas jika pertobatan itu terjadi melalui peranan orang lain. Orang yang egois bersukacita saat dia yang beraktifitas dan berhasil mempertobatkan orang berdosa, karena dia berpikir bahwa dengan itu dia akan menerima imbalan. Akan tetapi dia akan menjadi iri saat melihat orang lain membimbing seorang berdosa kepada Kristus. Orang kudus yang sejati bersukacita melihat orang lain bisa menunjukkan bahwa dia berguna, dan bersukacita melihat seorang berdosa dipertobatkan melalui peranan orang lain, seolah-olah dia juga ikut ambil bagian dari peristiwa itu

2. “Bukankah saya juga perlu memperhatikan kebahagiaan pribadi saya?”

Tidak salah jika Anda peduli dengan kebahagiaan pribadi Anda sesuai dengan nilai relatifnya. Takarlah kebahagiaan pribadi Anda itu terhadap kemuliaan Allah dan juga kebaikan bagi alam semesta, kemudian baru Anda putuskan – berilah nilai yang sesuai bagi kebahagiaan pribadi Anda itu. Itulah hal yang telah dilakukan oleh Allah. Dan makna inilah yang Dia maksudkan ketika Dia memberi Anda perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri Anda sendiri.

Menarik sekali, semakin Anda abaikan kebahagiaan pribadi Anda, maka Anda akan menjadi semakin bahagia. Kebahagiaan yang sejati terutama diisi oleh pemenuhan hasrat-hasrat yang tidak egois. Jika Anda bermaksud mengerjakan sesuatu karena memang mengasihi hal yang Anda kerjakan itu, maka kebahagiaan Anda akan bergerak sejajar dengan pancapaian Anda dalam tindakan tersebut. Namun jika Anda berbuat baik hanya untuk mempertahankan kebahagiaan Anda, maka Anda akan gagal. Anda akan seperti anak kecil yang sedang mengejar bayangannya sendiri; dia tidak akan pernah berhasil mendapatkannya, karena bayangan itu akan selalu memiliki jarak dengannya.

3. “Bukankah Kristus memandang bahwa sukacita itu terletak di depan-Nya?”

Memang benar bahwa Yesus mengabaikan rasa malu dan memikul salib, dan memandang kebahagiaan yang terbentang di hadapan-Nya. Akan tetapi kebahagiaan macam apakah yang terbentang di hadapan-Nya itu? Bukan keselamatan pribadi-Nya, bukan sukacita-Nya sendiri, melainkan kebaikan luar biasa yang akan Dia kerjakan bagi keselamatan dunia. Kebahagiaan orang lainlah yang menjadi tujuan-Nya. Dengan demikian, kebahagiaan itu memang terbentang di hadapan-Nya…dan memang kebahagiaan itulah yang Dia dapatkan.

4. “Bukanlah Musa juga mencari imbalan?”

Benar, Musa mencari imbalan. Namun apakah imbalan itu demi keuntungan pribadinya? Jauh dari itu. Hadiah itu adalah keselamatan bag umat Israel. Pernah Allah berniat membinasakan umat Israel membangun satu bangsa besar dari keturunan Musa. Jika Musa egois, tentunya dia akan berkata, “Benar, Tuhan, Biarlah terjadi seperti yang Kau kehendaki atas hamba-Mu ini.” Namun apa yang dia katakan? Mengapa hatinya begitu terpaku pada keselamatan umatnya, dan juga kemuliaan Allah, sehingga dia bahkan tidak berpikir untuk menerima niatan Tuhan tersebut. Sebaliknya, dia justru berkata, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel. 32:32). Tanggapans semacam ini tidak keluar dari orang yang egois.

5. “Bukankah Alkitab berkata bahwa kita ini mengasihi Allah karena Allah lebih dulu mengasihi kita?”

Memang ada disebutkan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yoh 4:19). Kalimat itu memiliki dua macam makna:

1) Kasih-Nya kepada kita memungkinkan kita untuk mengasihi Dia; atau 2) Kita ini mengasihi Dia karena kebaikan dan pemihakan yang telah Dia tunjukkan kepada kita. Makna yang kedua itu jelas tidak benar karena Yesus Kristus dengan jelas menyatakan satu prinsip di dalam Khotbah di Bukit: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.” (Luk 6:32).

Jika kita mengasihi Allah, bukan karena kepribadian-Nya melainkan karena pemihakan-Nya kepada kita, berarti kita ini tidak ada bedanya dengan orang yang belum bertobat.

6. “Bukankah Alkitab menawarkan kebahagiaan sebagai upah dari kebenaran?”

Alkitab menyebutkan kebahagiaan sebagai hasil dari kebenaran, akan tetapi tidak ada disebutkan bahwa kebahagiaan Anda itu adalah alasan untuk berbuat baik.

7. “Mengapa Alkitab terus berbicara tentang harapan dan ketakutan pada manusia jika kepedulian akan kebahagiaan pribadi Anda bukanlah suatu motif yang tepat bagi tindakan-tindakan Anda?”

Manusia pada dasarnya cenderung untuk merusak, dan memang tidaklah salah bertindak menghindarinya. Kita memang boleh peduli akan kebahagiaan kita, namun selalu dengan penilaian yang wajar.

Dan juga, manusia itu mabuk dengan dosa-dosa sehingga Allah tidak bisa masuk ke dalam perhatian mereka, agar mereka bisa mempertimbangkan tentang kepribadian-Nya yang sejati dan alasan-alasan untuk mengasihi Dia, kecuali jika Dia bergerak mengincar harapan dan ketakutan-ketakutan mereka. Namun begitu mereka disadarkan, maka Dia akan menawarkan Injil kepada mereka. Saat seorang penginjil berkhotbah tentang kengerian yang berasal dari Tuhan, sehingga pendengarnya terkejut dan tersadar, selanjutnya dia akan menyampaikan tentang kepribadian Allah kepada mereka, untuk menarik hati mereka agar mengasihi Dia karena kesempurnaan karakter-Nya itu.

8. “Bukankah Injil menawarkan pengampunan sebagai dasar bagi motivasi ketaatan?”

Jika yang Anda maksudkan adalah bahwa seorang berdosa disuruh untuk bertobat dengan janji bahwa dia akan diampuni, maka perlu saya katakan bahwa Alkitab tidak pernah menyampaikan hal yang semacam itu. Alkitab tidak pernah mendorong seorang berdosa untuk berkata, “Aku akan betobat jika Engkau mau mengampuni.” Dan memang tidak ada tawaran pengampunan sebagai pendorong untuk pertobatan.

Beberapa catatan penutup

1. Sebagian orang lebih giat mempertobatkan orang berdosa daripada mengupayakan pengudusan jemaat dan pemuliaan nama Allah melalui perbuatan baik umat-Nya.

Banyak orang yang ingin melihat orang lain diselamatkan, bukan karena kehidupan dan perbuatan orang itu menyakiti serta mempermalukan Allah, melainkan karena mereka prihatin akan orang tersebut dan tidak ingin melihat dia masuk neraka. Orang kudus sejati merasa sedih melihat dosa, karena dosa mempermalukan nama Allah. Dan mereka paling prihatin saat melihat orang Kristen berbuat dosa karena itu bahkan lebih mempermalukan Allah.

Sebagian orang tampaknya tak begitu peduli akan keadaan Jemaat, selama mereka bisa mempertobatkan lebih banyak orang lain, bagi mereka ‘keberhasilan’ penginjilan sama dengan ‘keberhasilan’ Jemaat, namun mereka tidak begitu peduli apakah Allah dipermalukan atau dipermuliakan lewat kehidupan Jemaat itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak didorong oleh kasih yang murni kepada Allah dan kekudusan, melainkan pada perasaan manusiawi mereka terhadap si orang berdosa itu.

2. Berdasarkan semua hal yang telah saya sampaikan itu, sangatlah mudah untuk memahami mengapa banyak orang yang mengaku Kristen namun memiliki pandangan yang begitu berbeda tentang apa sebenarnya Injil itu

Sebagian orang memandang Injil hanya sebagai suatu hiburan saja bagi umat manusia, di mana Allah ternyata bukanlah Pribadi yang seketat apa yang disampaikan dalam Hukum Taurat. Mereka mengira bahwa mereka bisa menjadi seduniawi apapun, dan Injil akan tetap menutupi kekurangan mereka serta menyelamatkan mereka.

Yang lain lagi, memandang Injil sebagai karunia ilahi dari Allah, dengan tujuan utama memusnahkan dosa dan menumbuhkan kekudusan. Oleh karenanya, kekudusan yang kurang dari yang dituntut dari dalam hukum Taurat adalah hal yang sangat mereka tolak, nilai Injil justru terletak dari kuasa untuk menjadikan mereka kudus.

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Atau, apakah kamu tidak menyadari bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu – melainkan kamu tidak tahan uji.” (2 Kor 13.5 NASB)”

(Artikel ini diedit dan disusun ulang oleh Melody Green & Martin Bennet dan diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)


Nov 17

Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu – 1

Charles G Finney

“Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan.” Yesaya 50:11

Kita bisa melihat dari ayat ini bahwa sang nabi sedang berbicara kepada mereka yang mengaku sebagai orang-orang religius, dan membanggakan diri dengan ide bahwa mereka berada dalam keselamatan. Namun kenyataannya, harapan mereka hanyalah api yang mereka sulut ke obor yang mereka ciptakan sendiri.

Sebelum saya membahas lebih jauh pokok tentang pertobatan yang sejati dan yang palsu, saya ingin sampaikan bahwa pembahasan ini hanya bermanfaat bagi mereka yang mau dengan jujur menerapkannya kepada diri mereka sendiri. Jika Anda berharap untuk bisa mendapat sesuatu manfaat dari apa yang akan saya sampaikan, Anda harus tetapkan untuk membuat penerapan yang tulus secara pribadi. Bersikap jujurlah seperti jika Anda akan menghadap Tuhan. Jika Anda bersedia melakukannya, saya harap Anda akan bisa dapati seperti apa sesungguhnya hubungan Anda dengan Tuhan.

Jika saat ini Anda sedang disesatkan, saya berharap untuk bisa membawa Anda pada jalur keselamatan yang benar. Namun jika Anda tidak bersikap jujur, maka khotbah saya ini akan menjadi sia-sia saja, dan Anda juga sia-sia mendengarkannya.

Saya berencana untuk menunjukkan perbedaan antara pertobatan yang sejati dan yang palsu mengikuti urutan pembahasan seperti ini:

I. Menunjukkan bahwa keadaan alami manusia adalah keadaan yang murni egois

II. Menunjukkan bahwa karakter orang Kristen itu berisi kebajikan. Artinya, [seorang Kristen itu] memilih untuk membahagiakan orang lain.

III. Menunjukkan bahwa kelahiran kembali di dalam Kristus Yesus merupakan suatu perubahan dari keegoisan menuju kebajikan.

IV. Menunjukkan beberapa bidang di mana orang-orang Kudus dan orang-orang berdosa, atau orang yang bertobat secara sejati dengan yang palsu, memiliki kesamaan dan juga perbedaan dalam hal-hal tertentu.

V. Menjawab beberapa persoalan

VI. Menyimpulkan dengan menyajikan beberapa penekanan.

I. Keadaan alami seorang manusia, atau cara hidup manusia sebelum betobat adalah keegoisan yang murni dan tidak ada campuran [kebaikan apapun] di dalamnya.

Keegoisan itu berarti menempatkan kebahagiaan pribadi Anda sebagai yang paling utama, dan juga mengejar keuntungan pribadi Anda. Orang yang egois menempatkan kebahagiaan pribadinya di atas segala yang lain, misalnya diatas kemuliaan Allah dan kebaikan seisi alam. Sangatlah jelas bahwa semua orang berada dalam keadaan ini sebelum bertobat. Hampir semua orang tahu bahwa orang-orang berurusan antara satu dengan yang lain berdasarkan prinsip keegoisan. Kalau ada orang yang menafikan hal ini, lalu coba berurusan dengan orang lain dengan cara yang tidak egois, maka dia akan dianggap bodoh.

II. Karakter seorang Kristen itu berisi kebajikan

Watak yang berisi kebajikan itu berarti suka membahagiakan orang lain, atau, lebih memilih untuk membahagiakan orang lain. Ini adalah pola pikir Allah. Kita diberitahu bahwa Allah itu kasih; artinya, Dia itu penuh kebajikan. Kebajikan memenuhi segenap kepribadian-Nya. Semua kualitas kepribadian-Nya yang lain hanya merupakan ungkapan berbeda dari kebajikan-Nya.

Setiap orang yang bertobat memiliki kecenderungan untuk menyerupai kepribadian Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa tak seorang pun yang bisa disebut bertobat jika dia tidak benar-benar memiliki kebajikan seperti Allah secara murni dan sempurna – melainkan bahwa kecenderungan pilihannya adalah pilihan berdasarkan kebajikan. Dia dengan tulus mengupayakan kebahagiaan orang lain, bukan karena hal itu akan membuatnya berbahagia nantinya.

Allah memiliki kebajikan yang murni dan tidak egois. Dia tidak membahagiakan orang-orang demi kesenangan pribadi-Nya, melainkan karena Dia memang mencintai kebahagiaan orang lain itu. Dia bukannya tidak berbahagia di dalam memberkati mereka, tapi kebahagiaan pribadi-Nya bukanlah tujuan yang Dia kejar. Orang yang tidak egois menemukan kebahagiaan saat mengerjakan perbuatan baik. Jika dia tidak gemar berbuat baik, tentunya perbuatan baik itu tidak menjadi hal yang dia utamakan.

Kebajikan adalah kekudusan. Itulah hal yang dituntut oleh hukum Allah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” ,” (Mat. 22.37, 39) Sama seperti orang yang sudah bertobat itu menaati hukum Allah, dia juga penuh kebajikan seperti Allah.

III. Pertobatan sejati adalah perubahan dari keegoisan puncak menuju kasih kepada kebahagiaan orang lain

Pertobatan yang sejati adalah perubahan atas tujuan yang Anda kejar, dan bukan sekadar perubahan dalam cara Anda mengejar cita-cita Anda. Tidak benar jika dikatakan bahwa orang yang bertobat dengan yang tidak bertobat itu memiliki cita-cita yang sama, dan perbedaannya hanya terletak pada cara mengejarnya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa malaikat Gabriel dan Iblis sama-sama berjuang mengejar kebahagiaan pribadi mereka, hanya saja cara mereka mengejarnya berbeda. Gabriel mentaati Allah bukan dalam rangka mengejar kebahagiaan pribadinya.

Seseorang bisa saja mengubah cara dia bertindak, namun tetap mengejar kebahagiaan pribadinya. Dia bisa saja orang yang tidak percaya kepada Yesus, atau pada kekekalan, akan tetapi dia bisa melihat bahwa berbuat baik itu bisa menguntungkannya di dunia ini dan memberi dia banyak keuntungan pribadi (yang bersifat sementara).

Anggaplah orang ini akhirnya bisa melihat realitas dari kekekalan dan memeluk agama dalam rangka mendapati kebahagiaan di dalam kekekalan itu. Nah, setiap orang tahu bahwa tidak ada hal yang berharga yang bisa didapati di sini. Bukan pelayanannya kepada Tuhan yang memberkati Tuhan, melainkan alasan mengapa dia melayani Allah itulah yang terpenting.

Petobat sejati menjadikan kemuliaan Allah dan kemajuan Kerajaan-Nya sebagai cita-citanya. Dia memilih hal tersebut sebagai tujuan hidupnya, karena dia melihat hal ini sebagai kebajikan yang lebih utama dibandingkan kebahagiaan pribadinya. Bukan karena dia tidak peduli dengan kebahagiaan pribadinya, melainkan karena dia lebih mengutamakan kemuliaan Allah, karena kemuliaan Allah adalah kebajikan yang lebih utama. Dia mengejar kebahagiaan orang-orang lain sesuai dengan makna penting yang bisa dia lihat di sana (sejauh dia mampu menilai hal tersebut), dan dia memilih kebajikan tertinggi itu sebagai cita-cita utamanya.

IV. Saya akan tunjukkan beberapa bidang di mana orang kudus sejati dan orang yang disesatkan memiliki kesamaan – dan bidang-bidang di mana mereka berbeda

1. Mereka bisa sepakat dalam hal kehidupan yang dikendalikan oleh moralitas yang tinggi. Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati menjalani kehidupan yang bermoral karena mereka mengasihi kekuusan – orang yang disesatkan memiliki motivasi yang egois. Dia akan memanfaatkan moralitas sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, demi kebahagiaan pribadi mereka.

2. Mereka bisa saja sama-sama giat berdoa, sejauh yang bisa dilihat secara langsung. Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati memang mengasihi doa – orang yang disesatkan berdoa karena mereka berharap untuk bisa memperoleh keuntungan dengan doa mereka. Orang kudus sejati memang mengharapkan suatu hasil dari doa mereka, akan tetapi hal ini bukanlah motivasi utama mereka. Petobat palsu berdoa murni dengan motivasi yang egois.

3. Mereka bisa terlihat sama-sama bersemangat dalam hal keagamaan. Orang bisa saja memiliki semangat yang tinggi mengikuti pengetahuan mereka, dan dia memang secara tulus berhasrat untuk melayani Tuhan. Petobat palsu bisa juga menunjukkan semangat yang tinggi, namun dengan tujuan menjamin keselamatan pribadinya, dan juga karena dia takut masuk neraka kalau dia tidak bekerja buat Tuhan. Mungkin dia juga melayani Allah demi meredam desakan hati nuraninya, bukan karena dia mengasihi Tuhan.

4. Mereka bisa terlihat sama-sama mengasihi hukum Allah. Orang kudus sejati mengasihi hukum Allah karena kesempurnaan, kekudusan, keadilan dan kebaikan dari hukum tersebut; orang yang egois mengira bahwa jika menjalankan hukum tersebut dia bisa menikmati kebahagiaan pribadi.

5. Mereka bisa terlihat sama-sama mendukung sanksi-sanksi yang terkandung dalam hukum Allah. Orang kudus sejati mengaitkan hukum Allah dengan diri pribadi mereka dalam pengertian bahwa sangatlah adil jika Allah memasukkan mereka ke dalam neraka. Orang yang disesatkan bisa saja menghormati hukum tersebut, karena dia tahu bahwa aturan yang ditegakkan di sana memang benar, akan tetapi dia merasa bahwa dirinya tidak berada dalam cakupan hukum tersebut.

6. Mereka bisa saja menolak beberapa hal yang sama. Menyangkal diri bukan hal yang dilakukan oleh kalangan orang kudus saja. Coba lihat pengorbanan dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh kaum muslim, yang menjalankan ibadah haji ke Mekah. Lihatlah disiplin dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat di dalam berbagai macam aliran kepercayaan timur itu. Orang kudus sejati menyangkal dirinya untuk bisa lebih banyak berbuat baik kepada orang lain. Pengorbanan dirinya tidak dilakukan demi meninggikan diri ataupun kepentingannya. Orang yang tersesat bisa saja melakukan hal yang sebanding dengan hal tersebut, akan tetapi murni dari niat yang egois.

7. Mereka bisa saja sama-sama memiliki kerelaan untuk mengorbankan nyawa. Bacalah kisah kehidupan para martir dan Anda bisa lihat betapa mereka memiliki kerelaan untuk berkorban bahkan demi ide yang salah mengenai imbalan yang akan diterima dengan pengorbanan mereka. Banyak orang yang berani menerjang maut karena keyakinan bahwa cara yang sedang mereka jalani adalah jalan yang paling benar yang menuju kekekalan.

8. Keduanya bisa saja memiliki kerelaan untuk berkorban sangat besar untuk menjalankan kebenaran. Petobat yang sejati melakukan hal itu karena dia mengasihi kebenaran, sedangkan petobat yang palsu melakukannya karena dia tahu bahwa dia tidak bisa diselamatkan jika tidak menjalankan kebenaran. Dia bisa saja bersikap jujur dalam transaksi bisnisnya, namun tanpa motivasi yang lebih mulia, maka tindakannya itu tidak akan dihargai oleh Allah.

9. Mereka bisa saja menghasratkan hal yang sama di dalam beberapa bidang

Mereka bisa sama-sama berhasrat untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Petobat yang sejati berhasrat menjadi orang yang berguna karena memang sangat menghargai nilai orang yang berguna bagi masyarakat, sedangkan petobat yang palsu menghasratkan hal itu karena dia memandang bahwa itu adalah jalan untuk menjadi berkenan kepada Allah.

Mereka bisa sama-sama mengharapkan orang lain bertobat. Bagi orang kudus sejati, karena hal itu akan memuliakan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, hal itu dalam rangka mendapatkan perkenan dari Allah. Dia akan dimotivasi oleh niatan tersebut, misalnya di saat dia sedang memberikan uang. Setiap orang tahu bahwa seseorang bisa memiliki kerelaan untuk menyumbang ke sebuah organisasi, ataupun Perhimpunan Misionaris, berlandaskan motivasi yang egois untuk mendapatkan kebahagiaan dari pujian dari manusia, atau mengejar perkenan dari Allah. Dengan demikian, dia juga bisa saja mengharapkan pertobatan dari orang-orang, dan berusaha keras untuk mewujudkannya, namun dengan berlandaskan motivasi yang egois.

Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk memuliakan Allah. Orang kudus yang sejati menghasratkan itu karena dia ingin melihat Allah dimuliakan, sedangkan orang yang tersesat melakukannya karena dia memandang hal itu sebagai satu-satunya jalan untuk diselamatkan. Petobat yang sejati mengarahkan hatinya mengejar kemuliaan bagi Allah. Sedangkan pihak yang tersesat menghasratkan hal itu demi keuntungan pribadinya.

Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk bertobat. Petobat yang sejati membenci dosa karena dosa itu menyakitkan dan mempermalukan Allah, oleh karenanya, dia ingin bertobat dari dosanya. Petobat yang palsu juga ingin bertobat karena dia menganggap bahwa kalau tidak bertobat, maka dia akan dihukum.

Mereka bisa sama-sama ingin mentaati Allah. Orang kudus yang sejati taat supaya dia bisa meningkatkan kekudusannya. Petobat yang palsu mentaati Allah karena dia mengharapkan imbalan dari ketaatannya.

10. Mereka bisa mengasihi hal yang sama

Mereka bisa saja sama-sama mengasihi Alkitab. Bagi petobat sejati hal ini karena Alkitab itu adalah kebenaran dari Allah. Dia bergemar di dalam kasihnya pada Alkitab. Orang yang tersesat mengasihi Alkitab karena mengira bahwa isi Alkitab mendukungnya, dan memandang isi Alkitab sebagai suatu rencana yang akan menggenapi harapannya.

Mereka bisa sama-sama mengasihi Allah – yang satu karena melihat bahwa karakter Allah itu begitu indah dan menyenangkan, dan dia mengasihi Allah demi menyenangkan hati Allah. Yang satunya lagi, karena dia mengira bahwa Allah adalah sahabat khusus yang akan membuatnya bahagia selamanya, lalu dia mengaitkan pemahaman tentang keberadaan Allah itu dengan kepentingan egoisnya.

Mereka bisa sama-sama mengasihi Kristus. Petobat sejati mengasihi karakter Kristus. Orang yang tersesat mengira bahwa Kristus akan menyelamatkannya dari neraka, dan memberi dia hidup yang kekal…jadi, dia merasa tidak punya alasan untuk tidak mengasihi Kristus.

Mereka bisa sama-sama mengasihi orang Kristen. Petobat yang sejati melakukannya karena dia melihat gambaran Kristus di dalam diri orang-orang Kristus, dan bisa menikmati kebersamaan rohani dengan orang-orang Kristen tersebut. Orang yang tersesat mengasihi orang-orang Kristen karena kesamaan denominasi, atau mungkin juga mereka berada di pihak yang sama. Dia juga gemar membicarakan tentang minatnya pada kekristenan dan harapannya untuk bisa masuk ke surga.

Mereka bisa sama-sama gemar menghadiri ibadah-ibadah keagamaan. Bagi orang kudus, hal ini karena hatinya memang gemar akan penyembahan, doa, memanjatkan pujian dan berbagi Firman Allah – sedangkan bagi orang yang tersesat, hal ini karena acara-acara kebaktian itu merupakan tempat yang bagus untuk menaikkan harapannya.

Keduanya bisa sama-sama menikmati saat-saat berdoa secara pribadi. Bagi orang kudus sejati, hal ini karena dia dekat dengan Allah dan bergemar dalam persekutuan dengan-Nya. Bagi orang yang tersesat, hal ini karena dia memperoleh kepuasan karena merasa dirinya adalah orang benar, merasa bahwa sudah merupakan tugasnya untuk berdoa secara pribadi.

Mereka bisa sama-sama mengasihi doktrin kasih karunia – bagi orang kudus sejati, hal ini karena hal tersebut sangat memuliakan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal ini karena mengira bahwa ajaran tersebut menjamin keselamatan pribadi mereka.

11. Mereka bisa sama-sama membenci sesuatu hal

Mereka bisa sama-sama membenci kebejatan seksual serta menentangnya dengan sangat keras – orang kudus sejati membencinya karena hal itu bersifat merusak dan bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal itu bisa saja karena bertentangan dengan pandangan pribadinya.

Mereka bisa sama-sama membenci dosa – bagi petobat sejati, hal itu karena dosa bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, karena dosa telah menyakitinya. Seringkali orang membenci dosa-dosa mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak meninggalkan dosa-dosa itu.

Mereka bisa sama-sama menentang orang berdosa. Penentangan yang dilakukan oleh orang kudus sejati dilandasi oleh kasih. Mereka melihat bahwa karakter dan perilaku si orang berdosa itu akan merusak Kerajaan Allah. Bagi orang yang tersesat, mereka menentang orang berdosa karena agama yang berbeda atau karena berada di pihak yang berbeda.

Di dalam semua bidang tersebut, motif masing-masing pihak saling bertentangan. Perbedaannya terlihat dari pilihan tujuan atau gol yang mereka ambil. Yang satu memilih mengutamakan kepentingannya, yang satunya lagi memilih kepentingan Allah sebagai tujuan utamanya.

Selanjutnya kita akan menjawab beberapa pertanyaan yang lazim muncul

(Disambung di Pertobatan yang sejati dan yang palsu – 2)

(Artikel ini diedit dan disusun ulang oleh Melody Green dan Martin Bennet dan diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)

Nov 13

Sifat marah pada diri manusia memang hal yg wajar dan biasa saja, tetapi jika terlalu sering marah-marah kurang baik juga, membaca buku dari pastor Rick Warren mungkin bisa membantu bagaimana kita mengatasi amarah.

Bagaimana menangani Amarah

Kita semua bisa marah, namun kita menunjukkannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang meledak-ledak. Yang lainnya merendam amarahnya. Namun tak ada satupun dari kita yang tak pernah marah. Rasa marah adalah reaksi normal dari manusia. Yesus pernah marah. Di dalam Perjanjian Lama ada 375 rujukan yang menyebutkan tentang kemarahan Allah. Alkitab berkata, “Dalam kemarahanmu, janganlah berbuat dosa.” Ada cara yang benar dan juga yang salah dalam menyatakan kemarahan. Bagaimana caranya agar Anda bisa menangani kemarahan dengan benar?

Saya akan beri Anda lima langkahnya:

1. Pahami mengapa Anda sampai marah

Semakin Anda bisa memahami diri Anda sendiri, maka semakin baik pula kemampuan Anda untuk mengendalikan kemarahan Anda. Kemarahan hanya sekadar suatu tanda peringatan. Kemarahan bukanlah persoalan Anda yang sebenarnya. Kemarahan menunjukkan ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang salah.

Kadang kala, penyebabnya adalah rasa sakit. Jika jempol Anda terkena palu, Anda akan merasa marah. Jika perasaan Anda terluka, maka Anda juga akan marah. Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Orange County Register beberapa waktu yang lalu, dan majalah itu menyebutkan, “Perceraian bukan akhir bagi pasangan yang masih menyimpan kemarahan. Dalam sebuah penelitian tentang orang-orang yang bercerai, sepertiga dari mereka, malah lebih dari sepertiga pria dan wanita yang bercerai, setelah lewat masa sepuluh tahun, masih menyimpan rasa marah berkaitan dengan penikahan mereka yang pertama.” Mengapa? Karena perceraian itu menyakitkan. Semakin Anda merasa terluka, maka Anda akan semakin marah. Jika luka ini Anda tangani, maka Anda juga sekaligus menangani rasa marah Anda.

Kadang kala penyebabnya adalah rasa frustrasi. Kita sering merasa marah menghadapi hal-hal yang kelihatannya tidak berjalan mulus, kita tidak bisa melakukan apa yang mau kita lakukan, atau dipaksa menunggu sesuatu. Daripada membiarkan rasa frustrasi itu berubah menjadi marah, lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah marah untuk urusan ini layak?” Saya pernah membaca sebuah artikel beberapa waktu yang lalu, tentang seorang remaja yang begitu frustrasi karena terjebak kemacetan sehingga dia mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas.

Malangnya, tembakan itu mengenai seseorang.

Anak itu, yang berasal dari keluarga Kristen, belakangan dia berkata, “Aku sudah membuat satu bencana besar dan aku harus menghadapinya. Aku layak masuk penjara. Setiap kali aku merenungkan hal itu. Peristiwa itu seperti menjadi mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Tak ada hal yang bisa kulakukan untuk mengubah hal itu. Aku hanya bisa berdoa setiap pagi dan malam bagi orang tersebut, kiranya Allah berkenan menjamah dan menyembuhkannya.” Layakkah anak itu menembakkan pistol hanya untuk menumpahkan rasa frustrasinya? Tentu saja tidak. Akan tetapi rasa frustrasi bisa dengan mudah berubah menjadi rasa marah jika tidak ditangani dengan benar.

Kadang kala penyebabnya adalah rasa tidak aman. Kita bisa menjadi marah jika merasa terancam. Kita merasa seperti hewan yang sedang dipojokkan. Hal ini tentu saja tidak harus diartikan secara harfiah belaka. Hal ini juga bisa kita artikan seperti saat harga diri kita dilukai, saat kita dipermalukan, atau saat kita dikritik.

Hal apakah yang bisa membuat Anda marah? Sebelum Anda bisa mengalahkan godaan rasa marah itu, Anda harus tahu apa penyebabnya.
2. Dapatkan harga diri Anda dari Allah dan bukan dari manusia

Rasa percaya diri memiliki peranan yang besar dalam mengendalikan amarah. Orang yang merasa tidak aman akan sangat mudah marah. Orang yang memiliki keyakinan besar tidak mudah marah. Jika Anda percaya diri, maka Anda bisa menangani luka hati, frustrasi dan rasa tidak aman dengan lebih mudah.

Alkitab berkata, di dalam kitab Pengkhotbah 7:21, “Janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang.” Semakin kita merasa tidak percaya diri, maka – dalam rangka mengejar rasa percaya diri itu – kita cenderung untuk semakin bergantung pada pendapat orang lain atas diri kita. Jika Anda tidak percaya diri dan ada orang yang berkata buruk tentang Anda, maka kemarahan Anda akan meledak karena ketergantungan Anda pada penilaian orang lain atas diri Anda.

Jika Anda ingin mengatasi rasa marah, Anda tidak boleh tegang saat ada orang lain yang mengritik Anda. Bagaimana supaya bisa mendapatkan rasa percaya diri yang sebesar itu? Amsal 14:26 berkata, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar (akan ada keyakinan dan rasa aman).” Untuk mengatasi rasa marah, percayalah pada apa yang dikatakan oleh Allah mengenenai diri Anda. Percayalah bahwa Dia memiliki rencana dan tujuan bagi hidup Anda. Jika Anda ingat akan hal itu, maka Anda tidak akan meledak saat orang lain mengritik Anda.
3. Berhenti dan berpikir sebelum memberi reaksi

Gerakkan dulu pikiran Anda sebelum Anda menggerakkan mulut Anda. Seringkali, saat kita merasa marah, maka mulut kita sudah bertindak sebelum pikiran kita bisa menetapkan akan melakukan apa. Amsal 16:23 berkata, “Orang bijak berpikir sebelum mereka berbicara.” Karena kata-kata kasar akan sangat mudah membanjiri saat kita marah. Berpikir adalah kunci kepada pengendalian amarah. Anda perlu belajar untuk menunda reaksi.

Thomas Jefferson pernah berkata, “Kalau kamu marah, hitung dulu sampai 10. Kalau kamu sangat marah, hitung dulu sampai 100.” Dan selama masa jeda itu, Anda perlu renungkan tiga pertanyaan ini:

Mengapa aku sampai marah? Apakah karena rasa takut? Sakit hati? Frustrasi? Apa masalah yang sebenarnya?

Apa sebenarnya hal yang aku inginkan? Tentunya Anda tidak terlalu menginginkan pembalasan karena membalas dendam sangat jarang membuahkan hasil sesuai harapan Anda. Malahan, tindakan semacam itu hanya akan membawa Anda lebih jauh dari hal yang sesungguhnya Anda harapkan.

Apa cara terbaik untuk mencapai hasil yang kuinginkan? Sangat jarang Anda bisa mencapai hasil sesuai harapan dengan sindiran, menjatuhkan orang lain, membentak atau berpura-pura berdiam diri. Semua itu tidak ada gunanya.

Anda mungkin mengira bahwa Anda tidak bisa menahan amarah, sebenarnya Anda bisa! Marah adalah suatu pilihan. Anda marah karena Anda ingin marah. Marah memang bisa memberi kelegaan. Namun Andalah yang menentukan bagaimana Anda mau meresponi. Karena Anda memiliki pilihan, maka pilihlah untuk menunda sebelum bereaksi!
4. Belajar untuk santai

Amsal 14:30 berkata, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh.” Kemarahan dan ketegangan selalu berjalan beriringan. Saat kita diberikan batas waktu untuk menyelesaikan sesuatu, dan saat mendekati batas waktu itu, kita cenderung mudah marah. Saat terhimpit waktu, kita cenderung mudah tersinggung. Sehari-harinya, saya adalah orang yang tenang, namun seminggu sekali saya terkena PMS (Pre Message Syndrome atau kegelisahan menjelang khotbah). Setiap akhir pekan, saya selalu gugup. Apa yang harus saya sampaikan kepada orang-orang nanti? Syukurlah, istri saya tidak keberatan kalau saya membawa mobil sendiri ke gereja. Hal ini cukup untuk menghindarkan banyak kejadian yang mungkin bisa membuat marah!

Sebagian dari Anda mengalami luka hati yang begitu pedih sehingga segala sesuatu hal bisa memicu amarah Anda. Minggu demi minggu hidup Anda jalani dalam ketegangan, dan Anda heran mengapa setiap kali pulang ke rumah, Anda harus membentak-bentak ke sana kemari.

Beikut ini adalah beberapa saran sederhana untuk membantu Anda bersikap tentang:

Waspada jika ada ketegangan yang muncul dalam hidup Anda. Jika Anda sadar bahwa ada suatu ketegangan yang sedang terbentuk, maka Anda bisa mengendorkannya dengan cara yang benar.

Membangun selera humor. Kadang kala, kita ini terlalu serius dalam menyikapi sesuatu hal. Saya pernah berkata kepada para staf saya, “Bersikaplah serius kepada Allah, namun jangan bersikap terlalu serius terhadap diri Anda sendiri.”
5. Terus menerus memohon pertolongan Allah

Yang paling penting, Anda membutuhkan Allah untuk bisa mengatasi rasa marah Anda. Empat buah Roh yang pertama, yang tertulis di dalam Galatia 5:22 adalah kasih, sukacita, damai sejahtera dan kesabaran. Anda membutuhkan semua itu jika Anda ingin mengatasi kemarahan Anda.

Saat dunia menekan Anda, dan Anda merasa tergencet, maka hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Anda akan mencuat keluar. Jika Anda dipenuhi oleh Roh Allah, maka kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kelemah-lembutan, kebaikan, iman, keramah-tamahan dan pengendalian diri akan muncul.

Kemarahan itu adalah tanda peringatan atas persoalan lain yang lebih mendalam – entah itu rasa frustrasi, rasa tidak aman, atau pun penyebab lainnya. Allah ingin menolong Anda untuk menangani persoalan-persoalan tersebut. Bersediakah Anda mengijinkan Dia menanganinya?

(Diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)

God Bless U All :)

Jun 11
berilah dengan tulus

berilah dengan tulus

Arti sesungguhnya hidup berkecukupan adalah suatu kehidupan yg senantiasa memberi dan membagikan diri, bukan mengumpulkan dan memiliki bagi diri sendiri.

Makna yg terkandung sesungguhnya begitu dalam ketika malam ini saya mencoba untuk merenungkan arti diatas ini dikarenakan saya sepanjang hari ini merasakan kebosanan yg sangat mendalam, mengeluh kesana kemari memberi taukan kesemua teman bahwa saya be-te habisssss, sudah beberapa teman yg saya curhatin ehhhh…ikutan be-te juga kaliee yach itu teman aku curhatin habis-habisan :)

Dikarenakan bukan hanya satu orang teman saja yg selalu membuat aku susah dan aku merasa direpotkan  salah satunya karena uang di pinjam teman terus teman tersebut pura-pura lupa bahkan sekarang teman tersebut menghilang pindah kontrakan ga tau kemana? bukan hanya itu saja nich Gestanto juga begitu pinjam dvd external notebook ku udah beberapa tahun sampai sekarang juga tidak kembali tadinya hanya untuk menyelesaikan tugas tugasnya uhhhhhhhhhh sebel sampai hari ini nich notebook ga bisa putar cd or dvd kerjaku harus pakai flashdisk, belum lagi teman kantorku Lina yg selalu nebeng mobil aku jika berangkat kerja tapi sama sekali ga pernah share bensin ataupun uang tol dan sebagainya duchh pelit dan kikir banget dech uhhh :) namun begitu pernah aku sekali kerja  nebeng mobil dia aku harus belikan dia bensin, bayar tol dan bayar parkir emmmmmmmmm semakin kesal rasanya.

Namun begitu saya membaca kisah Abraham berlutut diatas bukit moria, seraya memeluk putra tercintanya yg bernama Ishak. saat itu, Allah sedang menguji kesetiaan Abraham yg akan dijadikanNya bapak bangsa. Allah memerintahkan Abraham untuk menyembelih dan mengorbankan Ishak, putra kesayangannya.

Meskipun hatinya sangat sedih namun dengan kepatuhannya, Abraham bersimpuh dan akan segera melaksanakan perintah Allah. Ketika Ia akan menyembelih Ishak, malaikat Tuhan mencegah niat umatNya yg setia itu dan mengganti persembahan Abraham dengan domba jantan.

Ketika Abraham merelakan miliknya yg paling berharga, Ia sadar bahwa yg di milikinya itu adalah titipan Tuhan, dan milik titipan itu sekaligus menjadi ujian apakah kita setia dalam pengelolaannya semua yg kita miliki didunia ini bukanlah milik kita untuk menjadi berkat bagi orang lain dan bukan hanya bagi keuntungan diri kita sendiri saja.

“sesungguhnya adalah suatu kebahagiaan yg sangat berharga ketika memberi dari pada menerima”

Betapa kekesalan dan sakit hati serta rasa kecewa dan tidak rela, telah menyempitkan dan memiskinkan kehidupan rohaniku. bukankah jika aku relakan apa yg sudah aku berikan ini menyatakan bahwa aku berkecukupan? karena jika tidak demikan bagaimana aku bisa membantu mereka dan bukankah sudah selayaknya aku mengucap syukur karena sudah berkecukupan.

Akan hal semua ini aku renungkan dan aku ingat kembali bahwa sudah cukup setiap hari aku bisa makan sedangkan basih banyak orang yg tidak bisa makan, sudah cukup aku tinggal dirumah yg tidak kepanasan dan serta tidak kehujanan dikala turun hujan rumah yg nyaman meskipun tidak terlalu besar, bukankah sudah cukup dapat pergi bekerja tanpa kepanasan, tanpa basah jika hujan turun bahkan tanpa debu dijalannya atau tanpa berdesak-desakan bis kota meskipun mobilku tidak bagus-bagus amat namun aku masih bisa bekerja.

Serta betapa bodohnya aku selama ini, padahal Abraham dan Sang Nabi telah memberikan segala yg ada, hingga tak tersisa apa pun bagi mereka.

Seharusnya aku yg bodoh dan picik ini mengucap syukur. selama ini Tuhan sudah memberkati aku dengan limpahan rezeki, seharusnya aku tidak gelisah, marah-marah, mengeluh karena pinjaman dan pemberian yg tidak seberapa, namun telah turut membuat hati mereka lebih berbunga dan hari mereka lebih berguna.

Seharusnya aku bisa berfikir lebih bijaksana

May 16

TUHAN ITU TIDAK ADA (??)

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk
memotong rambut dan merapikan brewoknya.

Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan
mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi
topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan
beralih tentang Tuhan.

Si tukang cukur bilang,”Saya tidak percaya Tuhan itu
ada”.

“Kenapa kamu berkata begitu ???” timpal si konsumen.

“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana , di
jalanan… untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun
kesusahan.
Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha
Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak
merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.

Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si
konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.

Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia
melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,
berombak kasar (mlungker-mlungker- istilah jawa-nya),
kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu
terlihat kotor dan tidak terawat.

Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,
“Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.”

Si tukang cukur tidak terima,” Kamu kok bisa bilang
begitu ??”.
“Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya
mencukurmu!”

“Tidak!” elak si konsumen.
“Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak
akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan
brewokan seperti orang yang di luar sana “, si
konsumen menambahkan.

“Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si
tukang cukur.
” Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri,
kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang
cukur membela diri.

“Cocok!” kata si konsumen menyetujui.
“Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi… orang-orang TIDAK MAU DATANG
kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa
kesusahan di dunia ini.”

Si tukang cukur terbengong !!!

Mar 31

Suatu hari seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisan terbaiknya dan rencananya akan dipamerkan pada saat pernikahan Putri Diana. Ketika menyelesaikan lukisannya ia sangat senang dan terus memandangi lukisannya yang berukuran 2×8 m. Sambil memandangi, ia berjalan mundur dan ketika berjalan mundur ia tidak melihat ke belakang. Ia terus berjalan mundur dan di belakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia bisa mengakhiri hidupnya.

Seseorang melihat pemandangan tersebut dan bermaksud untuk berteriak memperingatkan pelukis tersebut, tapi tidak jadi karena dia khawatir si pelukis tersebut malah bisa jatuh ketika kaget mendengar teriakannya. Kemudian orang yang melihat pelukis tersebut mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut lalu mencoret-coret lukisan tersebut sampai rusak. Tentu saja pelukis tersebut sangat marah dan berjalan maju hendak memukul orang tersebut. Tetapi beberapa orang yang ada disitu menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari indah yang kita idamkan. Tetapi rencana itu tidak bisa terlaksana karena Tuhan punya maksud lain yang lebih baik. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap TUHAN atau juga terhadap orang lain. Tapi perlu kita ketahui TUHAN selalu menyediakan yang terbaik.

Jawaban.com


Feb 28

Masihkah Kita Juga Setia Seperti Anak Kecil ???

Di suatu pagi hari, seorang anak kecil terlihat seperti sedang menunggu di sebuah taman bermain. Dengan sebuah bola basket yang dipegangnya, anak kecil tersebut tetap duduk tenang. Entah apa yang membuatnya seperti itu? Siapakah orang yang ditunggunya tersebut?

Anak kecil tersebut sesekali tertunduk, sesekali juga menengok ke arah jalan. Seperti ada yang mengganggu dirinya. Teman-teman anak kecil tersebut datang menghampirinya sembari mengajaknya untuk bermain. Ajakan itu ditolak halus oleh anak kecil tersebut. Anak kecil tersebut akhirnya ditinggalkan sendiri oleh teman-temannya. Anehnya, anak kecil tersebut tidak menunjukkan kesedihan.

Tidak terasa waktu telah berlalu selama satu jam, tetapi anak tersebut tidak berpaling dari tempat duduknya. Sebuah mobil yang seperti dikenalnya melintas di depan jalan taman dan dia mulai menatap tajam mobil tersebut ketika berhenti parkir. Tapi, dia kecewa ketika orang yang keluar dari mobil tersebut bukan orang yang ditunggunya.

Dia terus menunggu dan menunggu. Tanpa disadarinya, ada sesosok tubuh manusia berada di belakangnya. Orang tersebut duduk di samping anak kecil yang sedang tertunduk lesu. Awalnya anak ini biasa saja sikapnya ketika orang tersebut duduk di sampingnya, tetapi tiba-tiba mukanya ceria melihat orang tersebut, yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Ya, anak ini sedang menunggu ayahnya yang baru pulang dari luar kota karena ada bisnis.

Sebelum pergi ke luar kota, ayahnya telah berjanji kepada anak kecil ini setiba pulang dari luar kota, ia akan bermain basket di taman dengan anaknya. Ayahnya menepati janjinya dan anak kecil tersebut dengan wajah yang sumringah mengajak ayahnya untuk bermain basket bersama.

Sering kali dalam hubungan kita dengan Bapa di Surga juga seperti itu, kita sepertinya menunggu DIA berbicara. Tanpa sadar dalam masa penantian jawaban tersebut, kita terkadang goyah terhadap janji Bapa di Surga yang telah diucapkan kepada kita. Jadilah seperti anak kecil tersebut yang tanpa lelah untuk menunggu ayahnya datang ke taman tersebut. Percayalah kepada Bapa di Surga, DIA pasti menepati janji-janji yang diucapkan kepada anak-anakNya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh-Nya.

By : Jawaban.Com

Feb 19

Seorang pastor yang sedang berkeliling mengunjungi umatnya mampir ke rumah seorang petani. Ia lalu terkesan oleh kepandaian dan sikap yang amat ramah dari seorang anak kecil, anak laki-laki satu-satunya dalam rumah itu, yang berusia empat tahun.

Kemudian, ia menemukan satu alasan mengapa anak itu bersikap amat ramah. Ibunya berada di bak dapur, sedang mencuci bagian-bagian lemari es yang paling sulit ketika anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah. “Mami, apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?” tanyanya.

Alangkah kagumnya pastor itu ketika melihat ibunya segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu, dan menghabiskan waktu selama 10 menit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Mother and SonSetelah anak itu pergi, pastor itu mengomentari tindakan dan sikapnya yang istimewa dalam menjawab pertanyaan putranya dan mengatakan kepada wanita itu, “Kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu.”

“Saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya,” kata ibu itu kepada pastor, “tetapi, peristiwa di mana putra saya menanyakan pertanyaan itu kepada saya mungkin tidak akan pernah terulang lagi.”

Seperti yang dikatakan oleh penyair, Kahlil Gibran, “Anakmu bukan milikmu, mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada dirinya… sebab mereka mempunyai alam pikiran sendiri. Berikan tempat bagi raganya, tetapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni masa depan yang tidak dapat kau kunjungi, bahkan juga tidak dalam mimpimu.”

By : Jawaban.com

Feb 1

Aku meminta kekuatan kepada Tuhan, agar aku dapat melakukan, aku dijadikan lemah, agar aku dapat dengan rendah hati belajar untuk taat.

Aku meminta kesehatan, agar aku dapat melakukan hal yang lebih besar, aku diberikan kelemahan fisik, agar aku dapat melakukan hal-hal yang lebih baik.

Aku meminta kekayaan, agar aku bisa bahagia, aku diberikan kemiskinan, agar aku menjadi bijaksana.

Aku meminta kekuasaan, agar aku memperoleh pujian manusia, aku dijadikan lemah, agar aku sadar bahwa aku memerlukan Allah.

Aku meminta segala sesuatu, agar aku dapat menikmati hidup, aku diberikan hidup, agar aku dapat menikmati segala sesuatu.

Aku tidak memperoleh sesuatu apapun yang aku minta,- tetapi segala sesuatu yang aku harapkan.

Nyaris segala doa yang tidak ku-ucapkan telah terjawab. aku adalah di antara semua manusia, orang yang paling kaya dengan berkat!

PS : Catatan seorang prajurit di medan tempur

« Previous Entries