Dec 7

Tidak ada yg kebetulan jika Allah sangat perduli dan menyembuhkan Hati yg hancur Jiwa yg remuk

Begitu Ibadah Minggu 6 desember 2009 dan Pastor Kong Hee dari  City Harvest Church in Singapore yg membawakan Firmannya di Ibadah Senayan City kemarin malam begitu banyak berkat yg aku dapatkan semakin memperkuat iman ini.

Firmannya :

Apakah yg harus kita lakukan pada waktu kita tidak tau apa lagi yg harus kita lakukan ?

nach, ini sama dengan kondisi dan keadaan ku yg sangat putus asa dan kata pastor Kong Hee ada 5 hal yg bisa kita lakukan seperti Raja Yosafat didalam 2 tawarikh 20 ayat 1-26

1. ayat 3 : Tetapkan hatimu untuk mencari Tuhan seperti didalam matius 6 : 33 karena Tuhan tidak akan mengecewakan kita

2. ayat 12 : Berfokus kepada Janji Tuhan di Alkitab bukan masalah yg kita hadapi, karena dialkitab banyak sekali janji2 Tuhan

3. ayat 13 : Berdiri dihadapan Tuhan percaya kepada Tuhan sepenuhnya, jangan panik, jangan khawatir, Efesus 6 pahlawan doa

4. ayat 14 : Nantikan Roh Kudus karena Roh Kudus adalah Roh penolong, Roh penghibur, yg akan memberikan kekuatan

5. ayat 22 : Memuji Tuhan, Pujian dan Penyembahan kepada Tuhan setiap saat sekalipun kita didalam api

karena sangat mudah kita menyembah dan memuji Tuhan pada waktu diberkati dan senang, tetapi justru didalam kesesakan, didalam masalah, didalam kekelaman terus pujilah Tuhan sekalipun kita ditengah api.

Pujian adalah bahasa iman dan iman itu tidak pernah diam seperti kata Haleluyah yg artinya berteriak sekuat-kuatnya, berputar, menari, penuh sukacita. Sekalipun kita didalam kesusahan karena pujian tidak pernah diam pujian selalu keras dan yg paling berharga dimata Tuhan ketika kita sakit hati, dan ketika hati kita hancur, kita tetap memuji Tuhan setiap saat.

dan dari semuanya itu Pemulihan pasti terjadi. Haleluyah, AMIEN.

Who am I that you are mindful of me
That you hear me, when I call
Is it true that you are thinking of me
That you love me
Its amazing
I am a friend of God, I am a friend of God
I am a friend of God He calls me friend
God almighty, Lord of glory
You have called me friend

————————–
I love U full JESUS’ :) :) :)

Nov 18

Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu – 2

Charles G Finney

(Disambung dari Pertobatan yang sejati dan yang palsu – 1)

Beberapa pertanyaan tentang perbedaan di antara orang Kristen yang sejati dan palsu

1. “Jika kedua kelompok itu sangat mirip dalam banyak hal, lalu bagaimana cara agar kita bisa mengenali karakter kita sendiri, atau mengetahui di dalam kelompok mana kita berada?

Kita sama-sama tahu bahwa hati ini sangat penuh dengan tipu daya, dan memang sangat licik (Yer. 17:9), jadi bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memang mengasihi Allah dan juga kekudusan, atau kita ini sekadar mencari imbalan dari Allah, mengejar tempat di surga demi kepentingan pribadi?

Jika kita benar-benar memiliki kebajikan, hal itu akan tampak dari tindakan kita sehari-hari.

Jika di dalam cara kita berurusan dengan orang lain itu kita dilandasi oleh watak yang egois, maka keegoisan itu juga akan melandasi cara kita berurusan dengan Allah. “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).

Menjadi seorang Kristen bukan sekadar urusan mengasihi Allah, melainkan juga hal mengasihi sesama manusia. Dan jika tindakan sehari-hari kita dilandasi oleh keegoisan, maka kita ini bukan orang yang sudah bertobat – sebab, jika kita tetap tergolong sebagai orang Kristen, maka itu berarti kita bisa menjadi seorang Kristen tanpa mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.

Jika Anda tidak egois, maka tanggungjawab spiritual Anda tidak akan menjadi suatu beban bagi Anda. Sebagian orang mengerjakan perintah Allah dengan sikap hati yang sama seperti seorang pasien yang meminum obat dari dokter – yakni karena dia berharap untuk bisa mendapatkan hasil yang baik buat dirinya pribadi, dan dia tahu bahwa dia harus meminumnya atau menghadapi kematian. Pelaksanaan itu selalu dia jalankan atas rasa terpaksa.

Jika Anda egois, maka sukacita Anda akan sangat dipengaruhi oleh seberapa tinggi harapan Anda untuk bisa masuk ke surga.

Saat Anda merasa sangat yakin bahwa Anda akan masuk surga, maka Anda akan sangat menikmati kehidupan Kristen Anda. Sukacita Anda bergantung pada harapan Anda, bukan karena kasih Anda pada hal-hal yang sedang Anda harapkan itu. Saya tidak menyatakan bahwa orang-orang kudus itu tidak bersukacita akan pengharapan mereka, akan tetapi harapan itu sendiri bukan hal yang terpenting bagi mereka. Mereka tidak banyak memikirkan tentang harapan pribadi mereka karena pikiran mereka tersita akan hal-hal yang jauh lebih bernilai.

Jika Anda egois, maka sukacita Anda lebih banyak dipengaruhi oleh penantian akan harapan pribadi Anda. Orang-orang kudus yang sejati bersukacita di dalam damai sejahtera yang datang dari Allah dan surga sudah terbentuk di dalam jiwa mereka. Ia tidak menunggu sampai mati nanti baru akan menikmati sukacita hidup kekal. Sukacitanya begerak sejajar dengan kekudusannya, bukan dengan harapan pribadinya.

Orang yang terperdaya atau tersesat hanya mengejar hasil dari ketaatan, sedangkan orang kudus memiliki jiwa yang taat.

Ini adalah perbedaan yang penting, dan saya kuatir hanya sedikit orang yang bisa memiliki jiwa yang taat itu. Orang kudus yang sejati memang benar-benar memiliki kecenderungan untuk taat, dan ketaatannya itu bersumber dari dalam hatinya – oleh karenanya, ketaatan itu menjadi hal yang mudah baginya. Petobat palsu bertekad untuk menjadi kudus karena tahu bahwa hanya itu jalan untuk mengejar kebahagiaan. Orang kudus yang sejati memilih kekudusan karena kasihnya pada kekudusan, dan dia memang kudus.

Petobat yang sejati dan yang palsu juga memiliki perbedaan dalam iman mereka.

Orang kudus sejati memiliki keyakinan akan kepribadian dan karakter Allah, dan keyakinan ini membawa mereka pada ketaatan yang sepenuh hati kepada Allah. Keyakinan yang sejati kepada janji-janji khusus Tuhan bergantung pada keyakinan akan kepribadian Allah. Hanya ada dua dasar bagi segala jenis pemerintahan, baik yang ilahi maupun yang manusiawi, yang ditaati karena ditakuti atau karena dipercaya. Segala jenis ketaatan bersumber dari salah satu dari kedua prinsip itu.

Di satu sisi, orang menjadi taat karena berharap mendapat imbalan atau takut akan hukuman. Sedangkan di sisi lain, ketaatan itu datang dari keyakinan akan karakter dari pemerintahan, yang dijalankan dengan kasih. Seorang anak mentaati orang tuanya karena dia mengasihi dan mempercayai mereka. Yang lain mungkin menunjukkan ketaatan di permukaan saja karena dilandasi oleh rasa takut dan harapan akan imbalan. Petobat yang sejati memiliki iman, atau keyakinan kepada Allah, yang mendorong dia untuk taat kepada Allah atas dasar kasih. Inilah yang disebut ketaatan iman.

Orang yang tersesat hanya memiliki iman yang separuh-separuh, begitu pula dengan ketaatannya. Iblis juga memiliki iman yang separuh-separuh. Dia percaya dan gemetar ketakutan. Seseorang mungkin meyakini bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan orang berdosa, dan berdasarkan pengetahuan itu maka dia mentaati Kristus untuk diselamatkan. Akan tetapi dia tidak sepenuhnya tunduk pada kedaulatan Kristus, atau memberi Kristus kendali atas kehidupannya.

Ketaatannya dilandasi oleh syarat bahwa dia akan diselamatkan. Dia tidak pernah dengan sepenuh hati – tanpa menyimpan sesuatu hal lain di hatinya – meyakini segenap kepribadian Allah sehingga membuat dia bisa berkata, “Kehendak-Mu jadilah.” Keyakinan agamanya berbentuk keyakinan akan seperangkat aturan atau hukum. Jenis yang lainnya lagi, memiliki Injil iman; kepercayaannya berlandasakan iman. Yang satu egois, yang satunya lagi dilandasi kebajikan. Di sinilah letak perbedaan sejati dari kedua kelompok tersebut. Kehidupan keagamaan yang satu hanya tampak di permukaan dan bersifat munafik. Yang satunya lagi bersumber dari dalam hati – kudus dan berkenan kepada Allah.

Jika Anda egois, maka Anda hanya bersukacita atas pertobatan seseorang di mana Anda memiliki peranan di dalamnya.

Anda hanya sedikit merasa puas jika pertobatan itu terjadi melalui peranan orang lain. Orang yang egois bersukacita saat dia yang beraktifitas dan berhasil mempertobatkan orang berdosa, karena dia berpikir bahwa dengan itu dia akan menerima imbalan. Akan tetapi dia akan menjadi iri saat melihat orang lain membimbing seorang berdosa kepada Kristus. Orang kudus yang sejati bersukacita melihat orang lain bisa menunjukkan bahwa dia berguna, dan bersukacita melihat seorang berdosa dipertobatkan melalui peranan orang lain, seolah-olah dia juga ikut ambil bagian dari peristiwa itu

2. “Bukankah saya juga perlu memperhatikan kebahagiaan pribadi saya?”

Tidak salah jika Anda peduli dengan kebahagiaan pribadi Anda sesuai dengan nilai relatifnya. Takarlah kebahagiaan pribadi Anda itu terhadap kemuliaan Allah dan juga kebaikan bagi alam semesta, kemudian baru Anda putuskan – berilah nilai yang sesuai bagi kebahagiaan pribadi Anda itu. Itulah hal yang telah dilakukan oleh Allah. Dan makna inilah yang Dia maksudkan ketika Dia memberi Anda perintah untuk mengasihi sesama manusia seperti diri Anda sendiri.

Menarik sekali, semakin Anda abaikan kebahagiaan pribadi Anda, maka Anda akan menjadi semakin bahagia. Kebahagiaan yang sejati terutama diisi oleh pemenuhan hasrat-hasrat yang tidak egois. Jika Anda bermaksud mengerjakan sesuatu karena memang mengasihi hal yang Anda kerjakan itu, maka kebahagiaan Anda akan bergerak sejajar dengan pancapaian Anda dalam tindakan tersebut. Namun jika Anda berbuat baik hanya untuk mempertahankan kebahagiaan Anda, maka Anda akan gagal. Anda akan seperti anak kecil yang sedang mengejar bayangannya sendiri; dia tidak akan pernah berhasil mendapatkannya, karena bayangan itu akan selalu memiliki jarak dengannya.

3. “Bukankah Kristus memandang bahwa sukacita itu terletak di depan-Nya?”

Memang benar bahwa Yesus mengabaikan rasa malu dan memikul salib, dan memandang kebahagiaan yang terbentang di hadapan-Nya. Akan tetapi kebahagiaan macam apakah yang terbentang di hadapan-Nya itu? Bukan keselamatan pribadi-Nya, bukan sukacita-Nya sendiri, melainkan kebaikan luar biasa yang akan Dia kerjakan bagi keselamatan dunia. Kebahagiaan orang lainlah yang menjadi tujuan-Nya. Dengan demikian, kebahagiaan itu memang terbentang di hadapan-Nya…dan memang kebahagiaan itulah yang Dia dapatkan.

4. “Bukanlah Musa juga mencari imbalan?”

Benar, Musa mencari imbalan. Namun apakah imbalan itu demi keuntungan pribadinya? Jauh dari itu. Hadiah itu adalah keselamatan bag umat Israel. Pernah Allah berniat membinasakan umat Israel membangun satu bangsa besar dari keturunan Musa. Jika Musa egois, tentunya dia akan berkata, “Benar, Tuhan, Biarlah terjadi seperti yang Kau kehendaki atas hamba-Mu ini.” Namun apa yang dia katakan? Mengapa hatinya begitu terpaku pada keselamatan umatnya, dan juga kemuliaan Allah, sehingga dia bahkan tidak berpikir untuk menerima niatan Tuhan tersebut. Sebaliknya, dia justru berkata, “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” (Kel. 32:32). Tanggapans semacam ini tidak keluar dari orang yang egois.

5. “Bukankah Alkitab berkata bahwa kita ini mengasihi Allah karena Allah lebih dulu mengasihi kita?”

Memang ada disebutkan, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yoh 4:19). Kalimat itu memiliki dua macam makna:

1) Kasih-Nya kepada kita memungkinkan kita untuk mengasihi Dia; atau 2) Kita ini mengasihi Dia karena kebaikan dan pemihakan yang telah Dia tunjukkan kepada kita. Makna yang kedua itu jelas tidak benar karena Yesus Kristus dengan jelas menyatakan satu prinsip di dalam Khotbah di Bukit: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.” (Luk 6:32).

Jika kita mengasihi Allah, bukan karena kepribadian-Nya melainkan karena pemihakan-Nya kepada kita, berarti kita ini tidak ada bedanya dengan orang yang belum bertobat.

6. “Bukankah Alkitab menawarkan kebahagiaan sebagai upah dari kebenaran?”

Alkitab menyebutkan kebahagiaan sebagai hasil dari kebenaran, akan tetapi tidak ada disebutkan bahwa kebahagiaan Anda itu adalah alasan untuk berbuat baik.

7. “Mengapa Alkitab terus berbicara tentang harapan dan ketakutan pada manusia jika kepedulian akan kebahagiaan pribadi Anda bukanlah suatu motif yang tepat bagi tindakan-tindakan Anda?”

Manusia pada dasarnya cenderung untuk merusak, dan memang tidaklah salah bertindak menghindarinya. Kita memang boleh peduli akan kebahagiaan kita, namun selalu dengan penilaian yang wajar.

Dan juga, manusia itu mabuk dengan dosa-dosa sehingga Allah tidak bisa masuk ke dalam perhatian mereka, agar mereka bisa mempertimbangkan tentang kepribadian-Nya yang sejati dan alasan-alasan untuk mengasihi Dia, kecuali jika Dia bergerak mengincar harapan dan ketakutan-ketakutan mereka. Namun begitu mereka disadarkan, maka Dia akan menawarkan Injil kepada mereka. Saat seorang penginjil berkhotbah tentang kengerian yang berasal dari Tuhan, sehingga pendengarnya terkejut dan tersadar, selanjutnya dia akan menyampaikan tentang kepribadian Allah kepada mereka, untuk menarik hati mereka agar mengasihi Dia karena kesempurnaan karakter-Nya itu.

8. “Bukankah Injil menawarkan pengampunan sebagai dasar bagi motivasi ketaatan?”

Jika yang Anda maksudkan adalah bahwa seorang berdosa disuruh untuk bertobat dengan janji bahwa dia akan diampuni, maka perlu saya katakan bahwa Alkitab tidak pernah menyampaikan hal yang semacam itu. Alkitab tidak pernah mendorong seorang berdosa untuk berkata, “Aku akan betobat jika Engkau mau mengampuni.” Dan memang tidak ada tawaran pengampunan sebagai pendorong untuk pertobatan.

Beberapa catatan penutup

1. Sebagian orang lebih giat mempertobatkan orang berdosa daripada mengupayakan pengudusan jemaat dan pemuliaan nama Allah melalui perbuatan baik umat-Nya.

Banyak orang yang ingin melihat orang lain diselamatkan, bukan karena kehidupan dan perbuatan orang itu menyakiti serta mempermalukan Allah, melainkan karena mereka prihatin akan orang tersebut dan tidak ingin melihat dia masuk neraka. Orang kudus sejati merasa sedih melihat dosa, karena dosa mempermalukan nama Allah. Dan mereka paling prihatin saat melihat orang Kristen berbuat dosa karena itu bahkan lebih mempermalukan Allah.

Sebagian orang tampaknya tak begitu peduli akan keadaan Jemaat, selama mereka bisa mempertobatkan lebih banyak orang lain, bagi mereka ‘keberhasilan’ penginjilan sama dengan ‘keberhasilan’ Jemaat, namun mereka tidak begitu peduli apakah Allah dipermalukan atau dipermuliakan lewat kehidupan Jemaat itu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak didorong oleh kasih yang murni kepada Allah dan kekudusan, melainkan pada perasaan manusiawi mereka terhadap si orang berdosa itu.

2. Berdasarkan semua hal yang telah saya sampaikan itu, sangatlah mudah untuk memahami mengapa banyak orang yang mengaku Kristen namun memiliki pandangan yang begitu berbeda tentang apa sebenarnya Injil itu

Sebagian orang memandang Injil hanya sebagai suatu hiburan saja bagi umat manusia, di mana Allah ternyata bukanlah Pribadi yang seketat apa yang disampaikan dalam Hukum Taurat. Mereka mengira bahwa mereka bisa menjadi seduniawi apapun, dan Injil akan tetap menutupi kekurangan mereka serta menyelamatkan mereka.

Yang lain lagi, memandang Injil sebagai karunia ilahi dari Allah, dengan tujuan utama memusnahkan dosa dan menumbuhkan kekudusan. Oleh karenanya, kekudusan yang kurang dari yang dituntut dari dalam hukum Taurat adalah hal yang sangat mereka tolak, nilai Injil justru terletak dari kuasa untuk menjadikan mereka kudus.

Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Atau, apakah kamu tidak menyadari bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu – melainkan kamu tidak tahan uji.” (2 Kor 13.5 NASB)”

(Artikel ini diedit dan disusun ulang oleh Melody Green & Martin Bennet dan diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)


Nov 17

Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu – 1

Charles G Finney

“Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan.” Yesaya 50:11

Kita bisa melihat dari ayat ini bahwa sang nabi sedang berbicara kepada mereka yang mengaku sebagai orang-orang religius, dan membanggakan diri dengan ide bahwa mereka berada dalam keselamatan. Namun kenyataannya, harapan mereka hanyalah api yang mereka sulut ke obor yang mereka ciptakan sendiri.

Sebelum saya membahas lebih jauh pokok tentang pertobatan yang sejati dan yang palsu, saya ingin sampaikan bahwa pembahasan ini hanya bermanfaat bagi mereka yang mau dengan jujur menerapkannya kepada diri mereka sendiri. Jika Anda berharap untuk bisa mendapat sesuatu manfaat dari apa yang akan saya sampaikan, Anda harus tetapkan untuk membuat penerapan yang tulus secara pribadi. Bersikap jujurlah seperti jika Anda akan menghadap Tuhan. Jika Anda bersedia melakukannya, saya harap Anda akan bisa dapati seperti apa sesungguhnya hubungan Anda dengan Tuhan.

Jika saat ini Anda sedang disesatkan, saya berharap untuk bisa membawa Anda pada jalur keselamatan yang benar. Namun jika Anda tidak bersikap jujur, maka khotbah saya ini akan menjadi sia-sia saja, dan Anda juga sia-sia mendengarkannya.

Saya berencana untuk menunjukkan perbedaan antara pertobatan yang sejati dan yang palsu mengikuti urutan pembahasan seperti ini:

I. Menunjukkan bahwa keadaan alami manusia adalah keadaan yang murni egois

II. Menunjukkan bahwa karakter orang Kristen itu berisi kebajikan. Artinya, [seorang Kristen itu] memilih untuk membahagiakan orang lain.

III. Menunjukkan bahwa kelahiran kembali di dalam Kristus Yesus merupakan suatu perubahan dari keegoisan menuju kebajikan.

IV. Menunjukkan beberapa bidang di mana orang-orang Kudus dan orang-orang berdosa, atau orang yang bertobat secara sejati dengan yang palsu, memiliki kesamaan dan juga perbedaan dalam hal-hal tertentu.

V. Menjawab beberapa persoalan

VI. Menyimpulkan dengan menyajikan beberapa penekanan.

I. Keadaan alami seorang manusia, atau cara hidup manusia sebelum betobat adalah keegoisan yang murni dan tidak ada campuran [kebaikan apapun] di dalamnya.

Keegoisan itu berarti menempatkan kebahagiaan pribadi Anda sebagai yang paling utama, dan juga mengejar keuntungan pribadi Anda. Orang yang egois menempatkan kebahagiaan pribadinya di atas segala yang lain, misalnya diatas kemuliaan Allah dan kebaikan seisi alam. Sangatlah jelas bahwa semua orang berada dalam keadaan ini sebelum bertobat. Hampir semua orang tahu bahwa orang-orang berurusan antara satu dengan yang lain berdasarkan prinsip keegoisan. Kalau ada orang yang menafikan hal ini, lalu coba berurusan dengan orang lain dengan cara yang tidak egois, maka dia akan dianggap bodoh.

II. Karakter seorang Kristen itu berisi kebajikan

Watak yang berisi kebajikan itu berarti suka membahagiakan orang lain, atau, lebih memilih untuk membahagiakan orang lain. Ini adalah pola pikir Allah. Kita diberitahu bahwa Allah itu kasih; artinya, Dia itu penuh kebajikan. Kebajikan memenuhi segenap kepribadian-Nya. Semua kualitas kepribadian-Nya yang lain hanya merupakan ungkapan berbeda dari kebajikan-Nya.

Setiap orang yang bertobat memiliki kecenderungan untuk menyerupai kepribadian Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa tak seorang pun yang bisa disebut bertobat jika dia tidak benar-benar memiliki kebajikan seperti Allah secara murni dan sempurna – melainkan bahwa kecenderungan pilihannya adalah pilihan berdasarkan kebajikan. Dia dengan tulus mengupayakan kebahagiaan orang lain, bukan karena hal itu akan membuatnya berbahagia nantinya.

Allah memiliki kebajikan yang murni dan tidak egois. Dia tidak membahagiakan orang-orang demi kesenangan pribadi-Nya, melainkan karena Dia memang mencintai kebahagiaan orang lain itu. Dia bukannya tidak berbahagia di dalam memberkati mereka, tapi kebahagiaan pribadi-Nya bukanlah tujuan yang Dia kejar. Orang yang tidak egois menemukan kebahagiaan saat mengerjakan perbuatan baik. Jika dia tidak gemar berbuat baik, tentunya perbuatan baik itu tidak menjadi hal yang dia utamakan.

Kebajikan adalah kekudusan. Itulah hal yang dituntut oleh hukum Allah, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” dan, “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” ,” (Mat. 22.37, 39) Sama seperti orang yang sudah bertobat itu menaati hukum Allah, dia juga penuh kebajikan seperti Allah.

III. Pertobatan sejati adalah perubahan dari keegoisan puncak menuju kasih kepada kebahagiaan orang lain

Pertobatan yang sejati adalah perubahan atas tujuan yang Anda kejar, dan bukan sekadar perubahan dalam cara Anda mengejar cita-cita Anda. Tidak benar jika dikatakan bahwa orang yang bertobat dengan yang tidak bertobat itu memiliki cita-cita yang sama, dan perbedaannya hanya terletak pada cara mengejarnya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa malaikat Gabriel dan Iblis sama-sama berjuang mengejar kebahagiaan pribadi mereka, hanya saja cara mereka mengejarnya berbeda. Gabriel mentaati Allah bukan dalam rangka mengejar kebahagiaan pribadinya.

Seseorang bisa saja mengubah cara dia bertindak, namun tetap mengejar kebahagiaan pribadinya. Dia bisa saja orang yang tidak percaya kepada Yesus, atau pada kekekalan, akan tetapi dia bisa melihat bahwa berbuat baik itu bisa menguntungkannya di dunia ini dan memberi dia banyak keuntungan pribadi (yang bersifat sementara).

Anggaplah orang ini akhirnya bisa melihat realitas dari kekekalan dan memeluk agama dalam rangka mendapati kebahagiaan di dalam kekekalan itu. Nah, setiap orang tahu bahwa tidak ada hal yang berharga yang bisa didapati di sini. Bukan pelayanannya kepada Tuhan yang memberkati Tuhan, melainkan alasan mengapa dia melayani Allah itulah yang terpenting.

Petobat sejati menjadikan kemuliaan Allah dan kemajuan Kerajaan-Nya sebagai cita-citanya. Dia memilih hal tersebut sebagai tujuan hidupnya, karena dia melihat hal ini sebagai kebajikan yang lebih utama dibandingkan kebahagiaan pribadinya. Bukan karena dia tidak peduli dengan kebahagiaan pribadinya, melainkan karena dia lebih mengutamakan kemuliaan Allah, karena kemuliaan Allah adalah kebajikan yang lebih utama. Dia mengejar kebahagiaan orang-orang lain sesuai dengan makna penting yang bisa dia lihat di sana (sejauh dia mampu menilai hal tersebut), dan dia memilih kebajikan tertinggi itu sebagai cita-cita utamanya.

IV. Saya akan tunjukkan beberapa bidang di mana orang kudus sejati dan orang yang disesatkan memiliki kesamaan – dan bidang-bidang di mana mereka berbeda

1. Mereka bisa sepakat dalam hal kehidupan yang dikendalikan oleh moralitas yang tinggi. Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati menjalani kehidupan yang bermoral karena mereka mengasihi kekuusan – orang yang disesatkan memiliki motivasi yang egois. Dia akan memanfaatkan moralitas sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, demi kebahagiaan pribadi mereka.

2. Mereka bisa saja sama-sama giat berdoa, sejauh yang bisa dilihat secara langsung. Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati memang mengasihi doa – orang yang disesatkan berdoa karena mereka berharap untuk bisa memperoleh keuntungan dengan doa mereka. Orang kudus sejati memang mengharapkan suatu hasil dari doa mereka, akan tetapi hal ini bukanlah motivasi utama mereka. Petobat palsu berdoa murni dengan motivasi yang egois.

3. Mereka bisa terlihat sama-sama bersemangat dalam hal keagamaan. Orang bisa saja memiliki semangat yang tinggi mengikuti pengetahuan mereka, dan dia memang secara tulus berhasrat untuk melayani Tuhan. Petobat palsu bisa juga menunjukkan semangat yang tinggi, namun dengan tujuan menjamin keselamatan pribadinya, dan juga karena dia takut masuk neraka kalau dia tidak bekerja buat Tuhan. Mungkin dia juga melayani Allah demi meredam desakan hati nuraninya, bukan karena dia mengasihi Tuhan.

4. Mereka bisa terlihat sama-sama mengasihi hukum Allah. Orang kudus sejati mengasihi hukum Allah karena kesempurnaan, kekudusan, keadilan dan kebaikan dari hukum tersebut; orang yang egois mengira bahwa jika menjalankan hukum tersebut dia bisa menikmati kebahagiaan pribadi.

5. Mereka bisa terlihat sama-sama mendukung sanksi-sanksi yang terkandung dalam hukum Allah. Orang kudus sejati mengaitkan hukum Allah dengan diri pribadi mereka dalam pengertian bahwa sangatlah adil jika Allah memasukkan mereka ke dalam neraka. Orang yang disesatkan bisa saja menghormati hukum tersebut, karena dia tahu bahwa aturan yang ditegakkan di sana memang benar, akan tetapi dia merasa bahwa dirinya tidak berada dalam cakupan hukum tersebut.

6. Mereka bisa saja menolak beberapa hal yang sama. Menyangkal diri bukan hal yang dilakukan oleh kalangan orang kudus saja. Coba lihat pengorbanan dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh kaum muslim, yang menjalankan ibadah haji ke Mekah. Lihatlah disiplin dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat di dalam berbagai macam aliran kepercayaan timur itu. Orang kudus sejati menyangkal dirinya untuk bisa lebih banyak berbuat baik kepada orang lain. Pengorbanan dirinya tidak dilakukan demi meninggikan diri ataupun kepentingannya. Orang yang tersesat bisa saja melakukan hal yang sebanding dengan hal tersebut, akan tetapi murni dari niat yang egois.

7. Mereka bisa saja sama-sama memiliki kerelaan untuk mengorbankan nyawa. Bacalah kisah kehidupan para martir dan Anda bisa lihat betapa mereka memiliki kerelaan untuk berkorban bahkan demi ide yang salah mengenai imbalan yang akan diterima dengan pengorbanan mereka. Banyak orang yang berani menerjang maut karena keyakinan bahwa cara yang sedang mereka jalani adalah jalan yang paling benar yang menuju kekekalan.

8. Keduanya bisa saja memiliki kerelaan untuk berkorban sangat besar untuk menjalankan kebenaran. Petobat yang sejati melakukan hal itu karena dia mengasihi kebenaran, sedangkan petobat yang palsu melakukannya karena dia tahu bahwa dia tidak bisa diselamatkan jika tidak menjalankan kebenaran. Dia bisa saja bersikap jujur dalam transaksi bisnisnya, namun tanpa motivasi yang lebih mulia, maka tindakannya itu tidak akan dihargai oleh Allah.

9. Mereka bisa saja menghasratkan hal yang sama di dalam beberapa bidang

Mereka bisa sama-sama berhasrat untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Petobat yang sejati berhasrat menjadi orang yang berguna karena memang sangat menghargai nilai orang yang berguna bagi masyarakat, sedangkan petobat yang palsu menghasratkan hal itu karena dia memandang bahwa itu adalah jalan untuk menjadi berkenan kepada Allah.

Mereka bisa sama-sama mengharapkan orang lain bertobat. Bagi orang kudus sejati, karena hal itu akan memuliakan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, hal itu dalam rangka mendapatkan perkenan dari Allah. Dia akan dimotivasi oleh niatan tersebut, misalnya di saat dia sedang memberikan uang. Setiap orang tahu bahwa seseorang bisa memiliki kerelaan untuk menyumbang ke sebuah organisasi, ataupun Perhimpunan Misionaris, berlandaskan motivasi yang egois untuk mendapatkan kebahagiaan dari pujian dari manusia, atau mengejar perkenan dari Allah. Dengan demikian, dia juga bisa saja mengharapkan pertobatan dari orang-orang, dan berusaha keras untuk mewujudkannya, namun dengan berlandaskan motivasi yang egois.

Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk memuliakan Allah. Orang kudus yang sejati menghasratkan itu karena dia ingin melihat Allah dimuliakan, sedangkan orang yang tersesat melakukannya karena dia memandang hal itu sebagai satu-satunya jalan untuk diselamatkan. Petobat yang sejati mengarahkan hatinya mengejar kemuliaan bagi Allah. Sedangkan pihak yang tersesat menghasratkan hal itu demi keuntungan pribadinya.

Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk bertobat. Petobat yang sejati membenci dosa karena dosa itu menyakitkan dan mempermalukan Allah, oleh karenanya, dia ingin bertobat dari dosanya. Petobat yang palsu juga ingin bertobat karena dia menganggap bahwa kalau tidak bertobat, maka dia akan dihukum.

Mereka bisa sama-sama ingin mentaati Allah. Orang kudus yang sejati taat supaya dia bisa meningkatkan kekudusannya. Petobat yang palsu mentaati Allah karena dia mengharapkan imbalan dari ketaatannya.

10. Mereka bisa mengasihi hal yang sama

Mereka bisa saja sama-sama mengasihi Alkitab. Bagi petobat sejati hal ini karena Alkitab itu adalah kebenaran dari Allah. Dia bergemar di dalam kasihnya pada Alkitab. Orang yang tersesat mengasihi Alkitab karena mengira bahwa isi Alkitab mendukungnya, dan memandang isi Alkitab sebagai suatu rencana yang akan menggenapi harapannya.

Mereka bisa sama-sama mengasihi Allah – yang satu karena melihat bahwa karakter Allah itu begitu indah dan menyenangkan, dan dia mengasihi Allah demi menyenangkan hati Allah. Yang satunya lagi, karena dia mengira bahwa Allah adalah sahabat khusus yang akan membuatnya bahagia selamanya, lalu dia mengaitkan pemahaman tentang keberadaan Allah itu dengan kepentingan egoisnya.

Mereka bisa sama-sama mengasihi Kristus. Petobat sejati mengasihi karakter Kristus. Orang yang tersesat mengira bahwa Kristus akan menyelamatkannya dari neraka, dan memberi dia hidup yang kekal…jadi, dia merasa tidak punya alasan untuk tidak mengasihi Kristus.

Mereka bisa sama-sama mengasihi orang Kristen. Petobat yang sejati melakukannya karena dia melihat gambaran Kristus di dalam diri orang-orang Kristus, dan bisa menikmati kebersamaan rohani dengan orang-orang Kristen tersebut. Orang yang tersesat mengasihi orang-orang Kristen karena kesamaan denominasi, atau mungkin juga mereka berada di pihak yang sama. Dia juga gemar membicarakan tentang minatnya pada kekristenan dan harapannya untuk bisa masuk ke surga.

Mereka bisa sama-sama gemar menghadiri ibadah-ibadah keagamaan. Bagi orang kudus, hal ini karena hatinya memang gemar akan penyembahan, doa, memanjatkan pujian dan berbagi Firman Allah – sedangkan bagi orang yang tersesat, hal ini karena acara-acara kebaktian itu merupakan tempat yang bagus untuk menaikkan harapannya.

Keduanya bisa sama-sama menikmati saat-saat berdoa secara pribadi. Bagi orang kudus sejati, hal ini karena dia dekat dengan Allah dan bergemar dalam persekutuan dengan-Nya. Bagi orang yang tersesat, hal ini karena dia memperoleh kepuasan karena merasa dirinya adalah orang benar, merasa bahwa sudah merupakan tugasnya untuk berdoa secara pribadi.

Mereka bisa sama-sama mengasihi doktrin kasih karunia – bagi orang kudus sejati, hal ini karena hal tersebut sangat memuliakan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal ini karena mengira bahwa ajaran tersebut menjamin keselamatan pribadi mereka.

11. Mereka bisa sama-sama membenci sesuatu hal

Mereka bisa sama-sama membenci kebejatan seksual serta menentangnya dengan sangat keras – orang kudus sejati membencinya karena hal itu bersifat merusak dan bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal itu bisa saja karena bertentangan dengan pandangan pribadinya.

Mereka bisa sama-sama membenci dosa – bagi petobat sejati, hal itu karena dosa bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, karena dosa telah menyakitinya. Seringkali orang membenci dosa-dosa mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak meninggalkan dosa-dosa itu.

Mereka bisa sama-sama menentang orang berdosa. Penentangan yang dilakukan oleh orang kudus sejati dilandasi oleh kasih. Mereka melihat bahwa karakter dan perilaku si orang berdosa itu akan merusak Kerajaan Allah. Bagi orang yang tersesat, mereka menentang orang berdosa karena agama yang berbeda atau karena berada di pihak yang berbeda.

Di dalam semua bidang tersebut, motif masing-masing pihak saling bertentangan. Perbedaannya terlihat dari pilihan tujuan atau gol yang mereka ambil. Yang satu memilih mengutamakan kepentingannya, yang satunya lagi memilih kepentingan Allah sebagai tujuan utamanya.

Selanjutnya kita akan menjawab beberapa pertanyaan yang lazim muncul

(Disambung di Pertobatan yang sejati dan yang palsu – 2)

(Artikel ini diedit dan disusun ulang oleh Melody Green dan Martin Bennet dan diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)

Nov 13

Sifat marah pada diri manusia memang hal yg wajar dan biasa saja, tetapi jika terlalu sering marah-marah kurang baik juga, membaca buku dari pastor Rick Warren mungkin bisa membantu bagaimana kita mengatasi amarah.

Bagaimana menangani Amarah

Kita semua bisa marah, namun kita menunjukkannya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang meledak-ledak. Yang lainnya merendam amarahnya. Namun tak ada satupun dari kita yang tak pernah marah. Rasa marah adalah reaksi normal dari manusia. Yesus pernah marah. Di dalam Perjanjian Lama ada 375 rujukan yang menyebutkan tentang kemarahan Allah. Alkitab berkata, “Dalam kemarahanmu, janganlah berbuat dosa.” Ada cara yang benar dan juga yang salah dalam menyatakan kemarahan. Bagaimana caranya agar Anda bisa menangani kemarahan dengan benar?

Saya akan beri Anda lima langkahnya:

1. Pahami mengapa Anda sampai marah

Semakin Anda bisa memahami diri Anda sendiri, maka semakin baik pula kemampuan Anda untuk mengendalikan kemarahan Anda. Kemarahan hanya sekadar suatu tanda peringatan. Kemarahan bukanlah persoalan Anda yang sebenarnya. Kemarahan menunjukkan ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang salah.

Kadang kala, penyebabnya adalah rasa sakit. Jika jempol Anda terkena palu, Anda akan merasa marah. Jika perasaan Anda terluka, maka Anda juga akan marah. Saya pernah membaca sebuah artikel di majalah Orange County Register beberapa waktu yang lalu, dan majalah itu menyebutkan, “Perceraian bukan akhir bagi pasangan yang masih menyimpan kemarahan. Dalam sebuah penelitian tentang orang-orang yang bercerai, sepertiga dari mereka, malah lebih dari sepertiga pria dan wanita yang bercerai, setelah lewat masa sepuluh tahun, masih menyimpan rasa marah berkaitan dengan penikahan mereka yang pertama.” Mengapa? Karena perceraian itu menyakitkan. Semakin Anda merasa terluka, maka Anda akan semakin marah. Jika luka ini Anda tangani, maka Anda juga sekaligus menangani rasa marah Anda.

Kadang kala penyebabnya adalah rasa frustrasi. Kita sering merasa marah menghadapi hal-hal yang kelihatannya tidak berjalan mulus, kita tidak bisa melakukan apa yang mau kita lakukan, atau dipaksa menunggu sesuatu. Daripada membiarkan rasa frustrasi itu berubah menjadi marah, lebih baik kita bertanya pada diri sendiri, “Apakah marah untuk urusan ini layak?” Saya pernah membaca sebuah artikel beberapa waktu yang lalu, tentang seorang remaja yang begitu frustrasi karena terjebak kemacetan sehingga dia mengeluarkan pistol dan menembakkannya ke atas.

Malangnya, tembakan itu mengenai seseorang.

Anak itu, yang berasal dari keluarga Kristen, belakangan dia berkata, “Aku sudah membuat satu bencana besar dan aku harus menghadapinya. Aku layak masuk penjara. Setiap kali aku merenungkan hal itu. Peristiwa itu seperti menjadi mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Tak ada hal yang bisa kulakukan untuk mengubah hal itu. Aku hanya bisa berdoa setiap pagi dan malam bagi orang tersebut, kiranya Allah berkenan menjamah dan menyembuhkannya.” Layakkah anak itu menembakkan pistol hanya untuk menumpahkan rasa frustrasinya? Tentu saja tidak. Akan tetapi rasa frustrasi bisa dengan mudah berubah menjadi rasa marah jika tidak ditangani dengan benar.

Kadang kala penyebabnya adalah rasa tidak aman. Kita bisa menjadi marah jika merasa terancam. Kita merasa seperti hewan yang sedang dipojokkan. Hal ini tentu saja tidak harus diartikan secara harfiah belaka. Hal ini juga bisa kita artikan seperti saat harga diri kita dilukai, saat kita dipermalukan, atau saat kita dikritik.

Hal apakah yang bisa membuat Anda marah? Sebelum Anda bisa mengalahkan godaan rasa marah itu, Anda harus tahu apa penyebabnya.
2. Dapatkan harga diri Anda dari Allah dan bukan dari manusia

Rasa percaya diri memiliki peranan yang besar dalam mengendalikan amarah. Orang yang merasa tidak aman akan sangat mudah marah. Orang yang memiliki keyakinan besar tidak mudah marah. Jika Anda percaya diri, maka Anda bisa menangani luka hati, frustrasi dan rasa tidak aman dengan lebih mudah.

Alkitab berkata, di dalam kitab Pengkhotbah 7:21, “Janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang.” Semakin kita merasa tidak percaya diri, maka – dalam rangka mengejar rasa percaya diri itu – kita cenderung untuk semakin bergantung pada pendapat orang lain atas diri kita. Jika Anda tidak percaya diri dan ada orang yang berkata buruk tentang Anda, maka kemarahan Anda akan meledak karena ketergantungan Anda pada penilaian orang lain atas diri Anda.

Jika Anda ingin mengatasi rasa marah, Anda tidak boleh tegang saat ada orang lain yang mengritik Anda. Bagaimana supaya bisa mendapatkan rasa percaya diri yang sebesar itu? Amsal 14:26 berkata, “Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar (akan ada keyakinan dan rasa aman).” Untuk mengatasi rasa marah, percayalah pada apa yang dikatakan oleh Allah mengenenai diri Anda. Percayalah bahwa Dia memiliki rencana dan tujuan bagi hidup Anda. Jika Anda ingat akan hal itu, maka Anda tidak akan meledak saat orang lain mengritik Anda.
3. Berhenti dan berpikir sebelum memberi reaksi

Gerakkan dulu pikiran Anda sebelum Anda menggerakkan mulut Anda. Seringkali, saat kita merasa marah, maka mulut kita sudah bertindak sebelum pikiran kita bisa menetapkan akan melakukan apa. Amsal 16:23 berkata, “Orang bijak berpikir sebelum mereka berbicara.” Karena kata-kata kasar akan sangat mudah membanjiri saat kita marah. Berpikir adalah kunci kepada pengendalian amarah. Anda perlu belajar untuk menunda reaksi.

Thomas Jefferson pernah berkata, “Kalau kamu marah, hitung dulu sampai 10. Kalau kamu sangat marah, hitung dulu sampai 100.” Dan selama masa jeda itu, Anda perlu renungkan tiga pertanyaan ini:

Mengapa aku sampai marah? Apakah karena rasa takut? Sakit hati? Frustrasi? Apa masalah yang sebenarnya?

Apa sebenarnya hal yang aku inginkan? Tentunya Anda tidak terlalu menginginkan pembalasan karena membalas dendam sangat jarang membuahkan hasil sesuai harapan Anda. Malahan, tindakan semacam itu hanya akan membawa Anda lebih jauh dari hal yang sesungguhnya Anda harapkan.

Apa cara terbaik untuk mencapai hasil yang kuinginkan? Sangat jarang Anda bisa mencapai hasil sesuai harapan dengan sindiran, menjatuhkan orang lain, membentak atau berpura-pura berdiam diri. Semua itu tidak ada gunanya.

Anda mungkin mengira bahwa Anda tidak bisa menahan amarah, sebenarnya Anda bisa! Marah adalah suatu pilihan. Anda marah karena Anda ingin marah. Marah memang bisa memberi kelegaan. Namun Andalah yang menentukan bagaimana Anda mau meresponi. Karena Anda memiliki pilihan, maka pilihlah untuk menunda sebelum bereaksi!
4. Belajar untuk santai

Amsal 14:30 berkata, “Hati yang tenang menyegarkan tubuh.” Kemarahan dan ketegangan selalu berjalan beriringan. Saat kita diberikan batas waktu untuk menyelesaikan sesuatu, dan saat mendekati batas waktu itu, kita cenderung mudah marah. Saat terhimpit waktu, kita cenderung mudah tersinggung. Sehari-harinya, saya adalah orang yang tenang, namun seminggu sekali saya terkena PMS (Pre Message Syndrome atau kegelisahan menjelang khotbah). Setiap akhir pekan, saya selalu gugup. Apa yang harus saya sampaikan kepada orang-orang nanti? Syukurlah, istri saya tidak keberatan kalau saya membawa mobil sendiri ke gereja. Hal ini cukup untuk menghindarkan banyak kejadian yang mungkin bisa membuat marah!

Sebagian dari Anda mengalami luka hati yang begitu pedih sehingga segala sesuatu hal bisa memicu amarah Anda. Minggu demi minggu hidup Anda jalani dalam ketegangan, dan Anda heran mengapa setiap kali pulang ke rumah, Anda harus membentak-bentak ke sana kemari.

Beikut ini adalah beberapa saran sederhana untuk membantu Anda bersikap tentang:

Waspada jika ada ketegangan yang muncul dalam hidup Anda. Jika Anda sadar bahwa ada suatu ketegangan yang sedang terbentuk, maka Anda bisa mengendorkannya dengan cara yang benar.

Membangun selera humor. Kadang kala, kita ini terlalu serius dalam menyikapi sesuatu hal. Saya pernah berkata kepada para staf saya, “Bersikaplah serius kepada Allah, namun jangan bersikap terlalu serius terhadap diri Anda sendiri.”
5. Terus menerus memohon pertolongan Allah

Yang paling penting, Anda membutuhkan Allah untuk bisa mengatasi rasa marah Anda. Empat buah Roh yang pertama, yang tertulis di dalam Galatia 5:22 adalah kasih, sukacita, damai sejahtera dan kesabaran. Anda membutuhkan semua itu jika Anda ingin mengatasi kemarahan Anda.

Saat dunia menekan Anda, dan Anda merasa tergencet, maka hal-hal yang tersembunyi di dalam diri Anda akan mencuat keluar. Jika Anda dipenuhi oleh Roh Allah, maka kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kelemah-lembutan, kebaikan, iman, keramah-tamahan dan pengendalian diri akan muncul.

Kemarahan itu adalah tanda peringatan atas persoalan lain yang lebih mendalam – entah itu rasa frustrasi, rasa tidak aman, atau pun penyebab lainnya. Allah ingin menolong Anda untuk menangani persoalan-persoalan tersebut. Bersediakah Anda mengijinkan Dia menanganinya?

(Diterjemahkan oleh Cahaya Pengharapan Ministries)

God Bless U All :)

Jun 10
ansuransi

ansuransi

Sampai sekarang asuransi masih merupakan perdebatan yang serius dikalangan orang percaya!

Articles diatas memang sudah lama, sering kali saya membaca berulang-ulang ditambah bulan ini ada 4 ansuransi saya yg jatuh tempo pembayarannya berbarengan.

semua nya ini mengingatkan saya pada 7 th yg lalu mungkin waktu itu saya termasuk orang yg pemikirannya sudah maju dalam hal asuransi dikarenakan sedari muda meskipun sekarang juga masih  muda,he..he..he… angerap dechh muda terus’  :)   saya memang suka sekali menabung yg bentuknya asuransi karena saya sangat tau kelemahan saya yg boros sekali dan mudah sekali membeli barang-barang yg kurang berharga lapar mata jika shopping maunya semua dibeli akhirnya setiap bulan terima gaji habis begitu saja, belum lagi hobby saya travelling jalan-jalan kemana saja, ketempat tempat yg tentunya belum pernah saya kunjungi.

Asuransi pertama yg saya miliki adalah asuransi dana pensiun waktu itu pertimbangannya adalah  dikarenakan saya kerja nya di swasta tentunya saya tidak akan mendapatkan dana pensiun jika kelak saya sudah tidak bekerja lagi. alangkah baiknya saya menabung meskipun itu dalam bentuk asuransi dan tidak terasa masa pembayaran asuransi saya yg ini tinggal 2 kali lagi atau 2 th lagi dan sesudah itu  saya akan bebas premi dengan tidak membayar premi lagi tapi jiwa saya tetap di cover sampai usia saya 100th dan saya dapat merasakan manfaat asuransi tersebut diusia 55th (krn rata-rata org Indonesia pensiun di usia 55 th) sampai usia 100th andaikan saya masih hidup sampai usia 100th. hitung-hitung tetap saya mempunyai gaji meskipun saya sudah tidak bekerja lagi.

Bermula dari 1 polis asuransi sekarang saya sudah memiliki 8 polis asuransi yg terdiri dari asuransi kesehatan, sampai asuransi investasi/unit link bahasa keren nya saat ini, saya memang bukan agent asuransi dan saya sedang tidak mempromosikan asuransi apapun itu saya hanya ingin berbagi bagaimana saya merasakan manfaat dari mempunyai asuransi tersebut.

Meskipun waktu itu 7th yg lalu sewaktu saya membeli asuransi ada beberapa teman saya yg berpendapat, namanya Lina si alim yg rajin kegereja krn dia seorang pendoa syafaat digereja pernah menghakimi saya dengan berkata ” ikut asuransi dosa besar, sepertinya km tidak percaya dengan Tuhan saja yg sanggup memenuhi dan menyediakan semua kebutuhan kita ” (waktu itu dalam hati saya emangnya ansuransi itu identik dengan kematian? ) lain kata lina lain juga kata novi ” kita kan masih muda dan sangat muda untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk memenuhi cita-cita misalkan beli rumah, mobil (waktu itu loch emang belum punya-emang ga kebeli ..:) ) dan lain-lainnya saja belum sanggup untuk memenuhi  semua kebutuhan dan keinginan km kok malahan habiskan uang buat bayar asuransi yg belum tentu manfaatnya”

Emmmm…mmm  jujur waktu itu aku sempat sedih juga kenapa teman-temanku dan mungkin juga kebanyakan pada umumnya orang Indonesia masih menganggap asuransi itu belumlah cukup penting.

Sedangkan menurutku jika aku yg masih muda dengan byk sekali  keinginan dan boros tidak tau merencanakan keuangan jika hanya menabung di bank ditambah punya atm lagi emmmm sampai kapanpun juga uangku ga akan pernah terkumpul untuk membeli polis asuransi dan lainnya karena akan mudah mengambil uang dibank, melalui atm apa lagi bisa jadi setiap punya uang hanya numpang lewat sesaat.

Dan ini menurut pendapat saya pribadi sewaktu saya memutuskan untuk membeli asuransi :

  • Tetapi asuransi secara tidak langsung mengajarkan saya untuk menabung secara disiplin dengan dipaksakan karena dananya tersebut tidak bisa sewaktu-waktu/ seenaknya saya ambil.
  • Mumpung usia masih muda untuk membeli polis asuransi masih murah, karena premi asuransi ditetapkan berdasarkan usia tertanggung yg masuk.
  • Manfaatnya yg bisa kita rasakan tanpa terduga salah satu contoh sewaktu saya 2 bulan lalu di malaysia dan ga sengaja sakit dan dirawat serta harus kontrol dan cek up bolak balik ke sana minimal dengan adanya ansuransi saya bisa menghemat biaya rumah sakit karena biaya ditanggung asuransi.
  • Dan yg lagi ngetren sekarang ini adalah asuransi dalam bentuk investasi yg di mix dengan tabungan namun bunganya cukup untuk mengimbangi inflasi negeri kita dibandingkan dengan kita menabung dibank yg sudah tentu bunganya sangat kecil dan tidak bisa mengimbangi laju inflasi. bayangkan saja jika inflasi 8-10 % pertahun sedangakn suku bunga di bank hanya 5 % pertahun, emmm yg ada lama-lama kita taruh uang dibank nilai nominalnya semakin menurun.
  • Apa lagi zaman sekarang semua sudah serba di asuransikan dari mobil, motor, rumah etc masakan diri sendiri tidak? emmm minimal doanya lah dari orang asuransi ( pastinya mereka akan berdoa supaya kita baik-baik saja, sehat selalu dan sehat supaya tetap bisa bayar premi itu keuntungan buat mereka dan rugi kan jika terlalu byk claim perusahan asuransinya ) he..he… untuk yg ini just kidding :)

Masih banyak yg saya rasakan dari manfaat memiliki asuransi serta siapa bilang harus kaya dulu baru punya asuransi atau jika semua kebutuhan sudah tercukupi baru sisanya bisa memikirkan untuk membeli asuransi, emmm sampai kapan?  justru sedini mungkin memiliki asuransi sudah merupakan salah satu jaminan hidup dimasa yg akan datang. salah satunya bebas secara financial…:)

” Jika disiplin itu tidak datang dari diri sendiri, emmm siapa yg akan membantu ? ”

Jun 8
Happy Face

Happy Face

Suatu ketika di persimpangan jalan kota Bandung, aku melihat beberapa orang yang meminta-minta. Dan kulihat, mereka bisa tertawa-tawa satu sama lain. Apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka tertawakan? Kok bisa yah dengan apa yang mereka jalani sekarang, mereka masih bisa tertawa? Apa karena mereka bahagia dengan pekerjaan mereka? Yah banyak pertanyaan yang menggelayut di otakku, belum satu pun dapat di jawab. Kalau orang kaya, atau orang pintar terlihat bahagia, itu wajar.

Lalu satu suara berteriak, Kenapa tidak kau tanyakan pada mereka, kenapa mereka kelihatan bahagia. Ah tidak, aku terlalu malu untuk menanyakan hal itu pada mereka.

Kebahagiaan itu bukan tujuan, tapi cara hidup!

Kalimat ini yang kutemukan di suatu buku pengembangan diri.

Wow..Untuk sesaat aku coba memaknai akan maksud kalimat ini. Mengingatkan pada harta kecil kehidupan yang tersembunyi di sisa hari. Yah, harta itu bernama kebahagiaan.

Tiba-tiba mengingatkanku akan pengemis di jalan. Tidak perlu pergi jauh atau membayar mahal untuk mendapatkannya. Sebab kebahagiaan itu berasal dari cara kita memaknai kehidupan ini, penghargaan yang kita berikan pada apa yang kita miliki.

Coba-coba kuingat-ingat hal-hal dalam hidupku yang bisa membuat aku bahagia.

Kebahagiaan bisa saja dengan hal yang sederhana misalnya saat aku makan ice cream campina 3 rasa, jalan-jalan bareng adik ku, nonton film di Empire XXI, makan sate Padang, mendengarkan suara orang yang dirindukan (orangtua, sahabat, mantan pacar, atau gebetan) atau juga kesadaran akan hari baru dan bisa menjalani satu hari penuh dan masih banyak hal-hal kecil lainnya, yang terkadang tidak disadari itu membuat bahagia.

Iya, aku bahagia melakukan itu semua.Walaupun mungkin ntar di akhir bulan harus mengirit karena besar pasak dari tiang. (peribahasa banget). Tapi tetap saja, masih bisa bahagia, karena mendapat suntikan dana lagi dari ortu. Maafkan anak-anakmu ini.

Kalimat yang sederhana dan memberi makna tentang kebahagiaan juga kutemukan di Alkitab yaitu 1 Tesalonika 5:6 “Bersukacitalah senantiasa”. Apapun yang akan kita temui hari ini, jagalah ucapan syukur selalu ada dalam hati kita dan milikilah kebahagian itu. Karena kebahagiaan adalah buah dari benih pohon ucapan syukur.

Bagaimana dengan Anda? hal-hal apa saja yang membuat Anda bahagia?

by “http://b-the-light.blogspot.com/

Jun 2

Cerita yg menghebohkan minggu ini diantara para Blogger Indonesia karena adanya UU ITE justru memakan korban seorang ibu-ibu yg karena menulis keluhannya di suara pembaca dimuat detik.com

Dan langsung saja aku,

Berjalan-jalan ke blog nya para sesepuh dan ternyata disana ada kampanye tentang pembebasan seorang ibu yg karena email nya beliau menceritakan keluhannya sehingga dituntut dan kini dipenjarakan, sungguh cerita yg tragis dan menyedihkan.

Sama ketika membuka blognya tikabanget dan disana juga sudah ada  facebooknya untuk mendukung kampanye ini’

Ini adalah keluhan Ibu Prita yg karena cerita ini loch beliau kini terpisah oleh kedua anak dan suaminya’ dipenjarakan, sungguh menyeramkan namun sungguh tidak adil dan tidak sesuai dengan penjahat-penjahat ataukah para koruptor dinegeri ini, beliau hanya  seorang ibu namun sungguh tega,.

Ibu dari dua balita itu dipenjara sejak Rabu 13 Mei lalu, terpisah dari si bungsu berusia setahun tiga bulan yang masih memerlukan ASI dan si sulung yang baru tiga tahun. Dia menjadi tersangka pencemaran nama baik. Hanya karena e-mail berisi keluhan tentang pelayanan rumah sakit.

Dan saya juga sudah memasang blogroll demi memberikan dukungan.

lebih baik kan membantu dengan memberikan dukungan dari pada ramai-ramai tidak menentu ^_^



Jun 2
manohara

manohara

Berkaca Pada Kasus Manohara
General Mon, 01 Jun 2009 14:20:00 WIB

Walaupun terletak berdekatan dan diyakini serumpun, tidak berarti hubungan antara Indonesia dan Malaysia selalu mulus-mulus saja. Berbagai kisah menghampiri, mulai dari masalah perbatasan, klaim wilayah, tenaga kerja gelap bahkan yang terbaru saat ini adalah kisah wanita Indonesia yang diperlakukan tidak manusiawi oleh suaminya, orang Negeri Jiran, bahkan petinggi d isana.

Akankah persoalan ini semakin rumit. Bagaimana solusi terbaiknya? Apakah akan membawa dampak lebih dalam terhadap hubungan bilateral dua negara? Berikut kupasan sekelumit permasalahan seorang sosok wanita muda bernama Manohara.

Manohara, lebih dikenal dengan sebutan nama demikian. Aslinya, perempuan bernama lengkap Manohara Odelia Pinot, terlahir pada tanggal 28 Februari 1992. Merupakan istri dari Pangeran Negeri Kelantan, Tengku Muhammad Fakhry.

Berita mengenai Puteri ke dua dari pasangan Daisy Fajarina dan Reiner Pinot Noack, sudah banyak disiarkan berbagai media di negeri ini. Namun, apakah dengan ‘kaburnya’ Manohara ke Indonesia, pada haru Minggu (31/05) kemaren akan menambah awan gelap dalam menyelesaikan kasus ini. Harapannya tentu tidak, mengingat perjalanan Bangsa Indonesia dihadapkan pada agenda besar, Pemilihan Presiden beberapa bulan ke depan, tentu kita tidak ingin energi kita habis menghadapi berbagai berita kelam mengenai memburuknya hubungan Indonesia dengan Malaysia.

Kasus Manohara harus Dibuktikan

Kasus penculikan serta kekerasan yang dialami oleh model asal Indonesia Manohara selalu memanas menghiasi berbagai media entertainment Indonesia. Komnas HAM melalui aktivis perempuan Lies Marcos, mengatakan kasus yang dialami oleh Manohara harus ditelusuri dulu kebenarannya. Menurutnya, kasus ini sendiri belum jelas kebenarannya. Jadi harus dicari tahu dulu, apakah benar Manohara diculik, disekap serta disiksa seperti yang gencar diberitakan.

Sementara mengenai kelambanan penanganan pemerintah, mungkin disebabkan, Pemerintah Indonesia harus mengikuti berbagai prosedur standar dalam pengurusan Warga Negara Indonesia yang mengalami ketidaknyamanan di negeri orang. Ratusan Tenaga Kerja Indonesia di beberapa negara asing pun kerap mengalaminya. Memang harus ada langkah terobosan dari Pemerintah Indonesia, untuk menangani kasus semodel ini. Kedaulatan dan keselamatan anak negeri merupakan falsafah utama dalam penanganan kasus seperti ini. Karena tidak ada dalam undang-undang manapun yang tidak mengatakan bahwa warga negara Indonesia tidak dilindungi oleh pemerintahnya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin angkat bicara, ketika menerima kedatangan ibunda Manohara, Daisy Fajarina. Berusaha memberikan solusi, emnyarankan dua opsi.

“Jujur kita prihatin dan sedih. Opsi dari saya ada dua, melalui agama dan hukum,” papar Din yang ditemui di Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, pada akhir April 2009 yang lalu. Pendekatan agama, dia menjelaskan bahwa dalam agama harus ada damai, musyawarah, kekeluargaan, dan perantara tanpa hukum. Pendekatan secara kekeluargaan ini semacam mediasi dan bisa dilakukan dua hingga lima kali.

“Kalau dilakukan cuma sekali tidak cukup. Harus didukung juga dengan penghentian pemberitaan besar-besaran di media massa,” bebernya. Pendekatan kedua, melalui jalur hukum. Cara ini harus diproses cepat dan kepada pihak berwenang. Dalam hal ini kepolisian, pemerintah, dan Departemen Luar Negeri. “Semua institusi itu berkaitan karena ini membicarakan dua negara. Harus diselesaikan secara hukum kalau ada WNI menikah dengan orang asing dan mendapat perlakukan tidak baik. Jika terjadi kekerasan, pemerintah wajib melindungi WNI. WNI secara de facto wajib mendapat perlindungan,” urainya.

Orang Tua Pun Harus Mawas Diri

Dengan perkembangan lebih lanjut, mengenai kaburnya Manohara ke Indonesia melalui Singapura, sepertinya kasus ini tidak bisa untuk tidak muncul dipermukaan. Adalah kewajiban Pemerintah Indonesia untuk mendapatkan keadilan bagi warganya, terutama melalui jalur hukum.

Namun, ada menariknya menyimak komentar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta menilai, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa Manohara Odelia Pinot oleh suaminya Pangeran Negara Bagian Kelantan, Malaysia, Tengku Muhammad Fakhri, tak lepas dari kesalahan orangtua. “Orangtua sudah seharusnya menjaga anaknya, kalau di bawah umur jangan (dinikahkan -red), apa lagi mereka kan bukan dari desa, tapi orang terpelajar,” kata Meutia menjawab wartawan di Jakarta pada 24 April 2009.

Meutia mengimbau agar pers jangan terlalu membesar-besarkan kasus Manohara saja karena banyak kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Malaysia yang disiksa majikannya atau terpaksa tertangkap aparat karena masuk dengan ilegal. Yang mungkin masih bisa juga untuk lebih diungkapkan.

“Ibu Daisy (ibu dari Manohara -red) beruntung bisa bertemu pers, tetapi bagaimana dengan wanita-wanita lainnya. Pers harus mencari tahu tentang itu,” katanya. Ia menambahkan, persoalan perempuan di negara lain harus diselesaikan tidak hanya oleh satu instansi pemerintah, tetapi juga bersama dengan Departemen lainnya seperti Depnaker atau Deplu.

Perlindungan WNI Masih Lemah

Perlindungan pemerintah terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang mendapatkan masalah di luar negeri dinilai masih lemah. Departemen Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI (KBRI) disarankan memiliki standar operasional baku terkait perlindungan terhadap WNI.

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, akibat lemahnya perlindungan, tidak aneh bila kasus-kasus WNI di luar negeri yang saat ini tengah terjadi seperti yang menimpa model Manohara Odelia Pinot, kasus tewasnya mahasiswa Universitas Teknologi Nanyang, David Hartanto Widjaja, tidak tertangani dengan baik.

Ada baiknya, Pemerintah Indonesia tidak hanya merespon jika ada masalah saja. Jika baru muncul ke permukaan, maka pemerintah baru sibuk dan sudah tidak dapat memperbaiki apa-apa. sementara, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah membantah jika pihaknya disebut tidak melakukan perlindungan terhadap Manohara. Menurut dia, Deplu telah menyampai kan nota diplomatik ke Malaysia terkait kasus yang menimpa Manohara Odelia Pinot.

Faizasyah juga menegaskan bahwa tidak benar jika KBRI tidak merespons laporan Manohara dan ibunya. Dia juga menuturkan, Deplu juga telah bertemu dengan ibunya Manohara,Daisy. “KBRI telah melakukan pendekatan dengan Kesultanan Kelantan.

Bahkan, kita telah bertemu dengan keluarga besar Kesultanan Kelantan dan berusaha menjadi fasilitator. Sampai ini masih dalam proses hingga akhirnya ada insiden Manohara diajak ke Singapura dan melarikan diri,” papar Faizasyah. Hanya saja, menurut dia, tidak semua proses tersebut dipublikasi ke publik.

Pemerintah Harus Lebih Melindungi Warganya

Tidak dapat dipungkiri permasalahan yang menimpa Manohara akan lebih membuat kita waspada. Bagaimana tidak, jika persoalan ini terjadi pada salah satu dari anggota keluarga kita, apakah tidak mungkin penanganan pemerintah pun masih sama saja. Pemerintah Republik Indonesia harus lebih melindungi warga negaranya. Berbagai jalan, langkah dan jalur perlindungan warga negara Indonesia harus mulai didirikan tegak. Jangan mau kedaulatan negeri ini hilang karena tidak dapat melindungi warga negaranya yang berada di negeri orang lain. Semakin cepat reaksi pemerintah semakin baik! Semoga tragedi Manohara tidak terulang lagi. (Rn, Berbagai Sumber)

Sumber: CBN

Jadi siapakah yg patut dipersalahkan, orangtua kah? atau siapa? kenapa mengijinkan anaknya yg masih muda belia menikah dibawah umur, emmm…m demi hartakah atau demi kedudukankah atau apalah kita tdk paham hanya saja ini suatu pelajaran yg baik buat kita-kita sebagai ibu dan wanita jangan lah anak diekploitasi demi tujuan-tujuan tertentu yg bisa jadi seperti contoh manohara yg ternyata tdk hidup bahagia, bagaikan burung dalam sangakar emas’ emmmmm udah kayak lagu jadul dech”

Pizsssssssssss ahhh^_^

Jun 2

Aku rasa masih lebih baik jika membahas minuman Arak yg terkenal dan minuman yg paling dinikmati berbagai lapisan masyarakat bali yaitu minuman arak” dan ini adalah ulasannya yg saya ambil dari detik.com dari pada kita ribut masalah leak dibali.

Korban Tewas Capai 23 Orang
Warga AS Ikut Jadi Korban Arak Maut di Bali
Regional Mon, 01 Jun 2009 16:48:00 WIB

Denpasar – Korban keganasan arak oplosan di Bali kembali berjatuhan. Dua orang kembali meninggal dunia, salah satunya adalah WN Amerika Rose Johnson (48). Dua orang juga telah ditetapkan sebagai tersangka dengan ancaman 20 tahun penjara.

Rose meninggal dunia setelah menjalani merawatan di RSUP Sanglah, Denpasar, pukul 01.30 wita, Senin (1/6/2009). Korban dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri setelah menegak miras, pada 30 Mei 2009.

Kepala instalasi Forensi RSUP sanglah dr Ida Bagus Putu Alit mengatakan bahwa korban meninggal dengan indikansi keracunan methanol.

Sejak kasus arak oplosan merebak, jumlah korban meninggal mencapai 23 orang, sedangkan 24 korban lainnya dirawat di RSUP Sanglah. Seluruh korban berasal dari Denpasar, Badung, Tabanan, Gianyar. Dua warga asing tewas, termasuk Alan Colen (59) warga negara Inggris.

Sementara itu, Polda Bali telah menahan dua orang tersangka, yaitu Made Rai Suweca pemilik UD Tri Hita Karya serta karyawannya Putu Suastana. Polisi juga telah memeriksa 24 saksi. Arak yang dikonsumsi korban sebagian besar berasal dari UD Tri Hita Karya.

“Mereka bertanggungjawab atas adanya unsur methanol di dalam arak. Kemungkinana berkembang ke tersangka lain,” kata Dir Narkoba Polda Bali Kombes Polisi Kokot Indarko.

Tersangka dijerat dengan pasal berlapis diantaranya, pasal 204 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara.

Kepala Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Denpasar Kombes Polisi Muhibin mengatakan dalam arak yang menewaskan puluhan orang tersebut terhadap unsur methanol yang kapasitasnya melebihi batas normal hingga menyebabkan kematian.

Dari hasil pemeriksaan, pada arak yang diproduksi UD Tri Hita Karya terdapat kandungan methanol sebanyak 1600 ppm sedangkan kandungan methanol pada arak yang dicampur kemudian diminum oleh korban mencapai 120.000 ppm. “Kandungan methanol ini melebihi ambang batas yaitu 1500 ppm,” katanya.

(gds/djo)

Sumber: detikcom

Kebiasan warga bali yg suka meminum arak dan merupakan hal yg biasa bagi masyarakat disana serta didukung dengan harga minuman tersebut yg sangat murah dan tentunya dengan kadar alkhol yg cukup tinggi membuat arak sangat mudah dijumpai dimana-mana diwilayah bali.

Dan apakah kebiasan ini akan terus berlanjut?” emmmmmmmmm” pastinya”

May 30

Betapa terharu dan sungguh membuat kita tidak boleh melupakan perjuangan seorang wanita terutama Ibu dalam melahirkan putra-putri bangsa ini,.

Sungguh Video yg sangat Menakjubkan”

I Love U Mom”

Anakku By Vina Panduwinata

Saat engkau tertidur,
Kupandangi wajahmu…
Masih ingin ku mendekapmu,
Masih ingin ku menciummu…

Tak pernah kusadari,
Waktu cepat berlari…
Kini engkau menjadi besar…
Kini engkaulah harapanku…

Tumbuh..
Tumbuhlah anakku…
Raihlah cita-citamu…

Jangan pernah engkau ragu, sayang..
Doaku selalu bersamamu
Membuat aman di hidupmu..
Selamanya….

Lagu dan video yg sangat menyentuh hati, emmm”

« Previous Entries